Hati-Hati Kebiasaan Main HP di Toilet! Dokter Ungkap Risiko Mengerikan yang Mengintai
- (jcomp/freepik)
Jateng – Dokter spesialis bedah umum lulusan Universitas Indonesia dr. Franky Mainza Zulkarnain, Sp. B menyebutkan bahwa kebiasaan sering duduk lama sambil bermain ponsel di toilet dapat meningkatkan risiko terkena wasir atau ambeien.
"Pergi ke toilet untuk buang air besar (BAB) itu kalau kita memang sudah ingin BAB, bukan tunggu BAB keluar sambil memegang handphone. Kadang-kadang orang begitu atau dia sudah selesai BAB, tapi belum selesai main handphone," kata Franky dalam temu media di Jakarta, Senin (12/1) seperti dikutip dari Antara, Selasa (13/1/2026).
Franky menjelaskan bahwa gaya hidup kekinian seperti buang air di kloset duduk dapat memicu peningkatan tekanan dalam anus saat mengejan. Tekanan tinggi ini akan memperbesar pembuluh darah dan memicu terjadinya wasir, yaitu pembengkakan atau pelebaran pembuluh darah vena (varises) di sekitar anus atau rektum bagian bawah.
Risiko akan semakin besar jika feses yang keluar keras karena kekurangan serat, sehingga tubuh dipaksa mengejan lebih kuat. Franky, yang praktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Puri Indah, juga menyampaikan bahwa risiko wasir meningkat pada orang yang malas bergerak dan gemar duduk dalam waktu lama.
Dari sisi usia, sebagian besar kasus yang ditanganinya terjadi pada pasien berusia 35 hingga 50 tahun. Franky membeberkan bahwa wasir paling sering menimpa laki-laki, meski tidak menutup kemungkinan terjadi pada usia lebih muda.
Penyebab umum lainnya adalah masa kehamilan, di mana tekanan dari dalam rahim meningkat seiring pertumbuhan ukuran bayi. Kegemukan atau obesitas juga menjadi penyebab karena menambah tekanan pada pembuluh darah.
Gejala wasir yang dapat dirasakan penderita antara lain rasa gatal, nyeri, perih, hingga berdarah saat buang air besar akibat peningkatan tekanan. Rasa tidak nyaman ini dapat menyulitkan penderita untuk duduk atau beraktivitas normal.
Oleh karena itu, Franky meminta masyarakat lebih memperhatikan pola makan, terutama dengan memperbanyak konsumsi serat dan menghindari makanan terlalu pedas atau banyak mengandung gas.
Prosedur penyembuhan tidak selalu memerlukan tindakan medis seperti operasi atau laser. Biasanya, dokter akan memantau kondisi pasien terlebih dahulu untuk menentukan tingkat keparahan sebelum merekomendasikan operasi.