Melongok Tradisi Jepang pada Malam Perayaan Tahun Baru, Jauh dari Kebisingan!

Ilustrasi pesta kembang api di malam tahun baru
Sumber :
  • Ist

Di Jepang, malam tahun baru disebut sebagai Omisoka. Berbeda dengan banyak negara yang merayakannya dengan kembang api yang bising, Jepang merayakannya dengan 108 kali dentuman lonceng (Joya no Kane) perunggu raksasa dari kuil-kuil Buddha di seluruh negeri.

img_title Tradisi Unik Tunisia saat Ramadan, dari Roti Rasa Berasap Khas Tabouna sampai Sentuhan Prancis yang Elegan

​Mengapa harus 108 kali? Dalam ajaran Buddha, angka ini melambangkan Bonno, yaitu keinginan duniawi atau kotoran batin yang menyebabkan penderitaan manusia.

Angka 108 berasal dari perhitungan panca indra manusia (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh) ditambah pikiran, dikalikan dengan berbagai kondisi emosional (baik, buruk, netral) dan dimensi waktu (masa lalu, sekarang, masa depan).

img_title Minuman Paling Aneh Sedunia: Ada Kopi Luwak hingga Susu Kecoak

​Filosofi dari ritual ini mencerminkan setiap dentuman lonceng dipercaya dapat mengusir satu per satu dari 108 dosa atau godaan tersebut agar seseorang bisa memulai tahun baru dengan jiwa yang murni.

​Prosesi Ritual

img_title Fakta atau Sekadar Sensasi? Begini Cara Air Soda Kirim Sinyal Kenyang ke Otak

Lonceng mulai dibunyikan sebelum tengah malam. Sebanyak 107 dentuman dilakukan pada tahun lama (31 Desember), dan dentuman ke-108 dilakukan tepat saat memasuki tahun baru (1 Januari).

Di beberapa kuil kecil, masyarakat umum diperbolehkan ikut mengayunkan kayu pemukul lonceng (shumoku) setelah mengantre lama. Namun, di kuil besar seperti Kuil Chion-in di Kyoto, dibutuhkan 17 biksu yang bekerja sama secara ritmis untuk membunyikan lonceng raksasa tersebut.

Tidak ada musik keras. Suasana biasanya sunyi, dingin, dan khidmat. Setelah lonceng selesai dibunyikan, orang-orang biasanya memakan Toshikoshi Soba (mi gandum hitam) yang melambangkan umur panjang karena bentuknya yang panjang dan mudah diputus (simbol memutus kesialan tahun lalu).

​Tradisi ini menunjukkan sisi kontemplatif dari tahun baru. Alih-alih hanya melihat ke depan (resolusi), masyarakat diajak untuk berhenti sejenak, merenung, dan secara simbolis melepaskan beban emosional dari masa lalu.

Selain itu, mereka juga berkumpul bersama keluarga. Menghabiskan waktu untuk merenungkan tahun yang lalu dan berdoa untuk tahun yang akan datang. 

Untuk menopang mobilitas warga pada malam tahun baru, pemerintah setempat mengoperasikan kereta dan bus sepanjang malam.