Bukan 1 Januari! Ini Waktu yang Ditunggu Negara-Negara Ini untuk Rayakan Tahun Baru
- (starline/freepik)
Jateng – Saat seluruh dunia sibuk dengan kembang api dan terompet menyambut 1 Januari, tahukah Anda bahwa beberapa negara justru melewatkan perayaan tersebut? Bukan tanpa alasan, hal ini dipengaruhi oleh kepercayaan, aturan agama, atau kalender tradisional yang mereka anut.
Mengutip Go2Tutors pada Kamis (1/1), seperti dilansir Antara, berikut sejumlah negara yang punya waktu dan cara sendiri untuk menyambut pergantian tahun:
1. China
Bagi masyarakat China, momen pergantian tahun yang sesungguhnya adalah Tahun Baru Imlek atau Festival Musim Semi. Ratusan juta orang pulang kampung untuk reuni keluarga dalam perayaan yang berlangsung selama lima belas hari, diakhiri Festival Lentera. Saat itulah segalanya dihiasi warna merah, petasan dibunyikan, amplop merah dibagikan, dan jamuan mewah disantap bersama.
2. Vietnam
Warga Vietnam menantikan Hari Raya Tết yang bertepatan dengan Imlek. Persiapan bisa memakan waktu berminggu-minggu, mulai dari membeli pakaian baru, membersihkan rumah, hingga menghias dengan bunga persik dan pohon kumquat. Perayaannya diisi dengan hidangan mewah, pemujaan leluhur, dan tradisi bagi-bagi amplop merah.
3. Ethiopia
Negara ini menggunakan kalender sendiri yang tertinggal 7-8 tahun dari kalender Gregorian. Tahun Baru Ethiopia (Enkutatash) jatuh setiap 11 September (atau 12 September di tahun kabisat). Perayaan menandai akhir musim hujan dengan pesta keluarga, pertukaran bunga, dan nyanyian tradisional. Tanggal 31 Desember berlalu begitu saja tanpa seremoni khusus.
4. Iran
Iran merayakan Nowruz, tahun baru yang telah berusia lebih dari 3.000 tahun dan bertepatan dengan ekuinoks musim semi. Keluarga menyiapkan meja ritual Haft-sin yang dihiasi tujuh benda spesial, melakukan pembersihan rumah, dan merayakannya selama 13 hari yang diakhiri dengan piknik besar.
5. Arab Saudi
Kalender resmi Arab Saudi adalah kalender Hijriah. Tahun barunya jatuh pada 1 Muharram. Bagi muslim Saudi yang konservatif, merayakan tahun baru 1 Januari secara tradisional dianggap tidak pantas dan bertentangan dengan ajaran agama.
Sejak 2014, Sultan Brunei Hassanal Bolkiah melarang perayaan Natal dan Tahun Baru 1 Januari di depan umum. Menampilkan dekorasi, mengenakan pakaian meriah, atau berkumpul untuk merayakannya dinilai bertentangan dengan ajaran Islam dan perlu dibatasi untuk melindungi akidah.