Banjir Bandang Terjang Maroko, Lebih dari 143 Ribu Warga Tinggalkan Rumah

Ilustrasi banjir.
Sumber :
  • (Freepik/AI Generated)

Jateng – Duka kembali menyelimuti Maroko. Menjelang akhir musim dingin, hujan yang tak henti-hentinya telah mengubah permukaan tanah di wilayah utara negara itu menjadi lautan air yang mengamuk.

img_title Nurul Furqon Salurkan 100 Paket Korban Banjir Demak

Bendungan-bendungan penting melampaui batas, sungai-sungai meluap, dan puluhan ribu keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam operasi penyelamatan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah bayangan tragis bencana sebelumnya, upaya antisipatif yang masif ini menjadi garis antara keputusasaan dan harapan.

img_title Pemprov Jateng Siapkan Solusi Permanen Banjir Demak

Otoritas Maroko melanjutkan operasi evakuasi besar-besaran untuk hari kesepuluh berturut-turut di sejumlah provinsi utara yang dilanda banjir parah, dengan lebih dari 143.000 orang dipindahkan sebagai langkah pencegahan, berdasarkan keterangan Kementerian Dalam Negeri seperti dikutip dari Antara News yang melansir Anadolu, Jumat (6/2/2026).

Juru bicara pemerintah Mustapha Baitas, Kamis, menyatakan banjir kali ini tidak menimbulkan korban jiwa di wilayah terdampak. Evakuasi dilakukan untuk melindungi warga seiring hujan lebat yang masih menghambat upaya penyelamatan dan bantuan.

img_title Banjir Demak Tak Kunjung Usai, Gubernur Jateng Bongkar Akar Masalah dari Hulu

Menurut Anadolu, ribuan warga direlokasi dari daerah terdampak di Provinsi Larache, Sidi Kacem, dan Sidi Slimane di utara, serta Kenitra di Maroko barat. Banjir bandang terus meluas di wilayah dataran rendah sejak akhir Januari.

Situasi terparah terjadi di Ksar El Kebir setelah Sungai Loukkos meluap menyusul bendungan Oued El Makhazine melampaui kapasitas tampung.

Data resmi menunjukkan bendungan itu mencapai 140 persen kapasitas untuk pertama kalinya, memicu genangan luas di kota dan lahan pertanian sekitar.

Kementerian Dalam Negeri menyebut Larache mencatat jumlah evakuasi terbesar dengan 110.941 orang, disusul Kenitra 16.914 orang, Sidi Kacem 11.696 orang, dan Sidi Slimane 3.613 orang.

Pemerintah menyatakan proses evakuasi dilakukan bertahap sesuai tingkat risiko dan potensi kerusakan, dengan dukungan logistik besar guna memastikan pemindahan serta penampungan warga berlangsung aman.

Meski kali ini tidak menimbulkan korban jiwa, Maroko sebelumnya pernah dilanda banjir mematikan. Pada Desember 2025, banjir bandang di kota Safi di bagian barat negara itu menewaskan sedikitnya 37 orang.