Fakta Vs Mitos: Ternyata Ini Alasan Masyarakat Jawa Bikin Gaduh Saat Gerhana Bulan
- (Freepik)
Jateng – Fenomena gerhana bulan selalu sukses menyedot perhatian, tak hanya karena keindahannya yang langka, tetapi juga berkat berbagai mitos yang menyelimutinya. Di Indonesia, peristiwa ketika Bumi, Matahari, dan Bulan berada dalam satu garis lurus ini kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis, terutama di masyarakat Jawa dan Bali. Lantas, bagaimana fakta ilmiah di balik cerita rakyat yang turun-temurun ini?
Simak ulasan lengkapnya untuk memisahkan antara mitos dan sains, mengutip sejumlah sumber, Rabu (4/3/2026):
Mitos Batara Kala dan Fakta Ilmiah Gerhana Bulan
Masyarakat Jawa dan Bali percaya bahwa gerhana bulan terjadi karena raksasa bernama Batara Kala sedang menelan bulan. Kisah ini memicu serangkaian ritual unik. Anak-anak kecil diminta berlindung di kolong tempat tidur, sementara wanita hamil diharuskan mengoleskan abu dapur di perut mereka. Untuk mengusir Batara Kala, warga pun membuat bunyi-bunyian gaduh dari ketongan atau lumpang (alat menumbuk padi) agar raksasa itu melepaskan bulan.
Namun, secara ilmiah, tidak ada kaitannya dengan makhluk gaib. Gerhana bulan total terjadi karena konfigurasi sempurna Matahari-Bumi-Bulan. Cahaya matahari terhalang Bumi, dan yang tersisa hanyalah rona kemerahan dari atmosfer Bumi yang terbiaskan ke permukaan bulan—itulah sebabnya disebut blood moon. Peristiwa ini adalah keselarasan kosmis biasa, bukan pertanda bencana.
"Terlepas dari fakta dan mitos mengenai gerhana bulan, sejumlah orang mempercayai bahwa fenomena Blue Blood Supermoon atau gerhana bulan bermakna spiritual dan ramalan yang tersembunyi, namun kita tetap harus memaknai sebagai fenomena kejadian alam biasa dan tetap harus harus memuliakan keagungan dan kebesaran Allah SWT."
Fenomena ini aman dilihat langsung dengan mata telanjang. Meskipun ada yang memaknai secara spiritual, pada akhirnya gerhana tetaplah kejadian alam spektakuler yang mengundang kekaguman sekaligus pengingat akan kebesaran Sang Pencipta.