Politisi Muda PPP Ungkap Empat Megatrend Nasional yang Menjadi Tantangan Baru bagi Kepemimpinan Pemuda di Era AI
- Istimewa
Jateng – Dalam forum nasional bertajuk “Kepemimpinan Pemuda di Tengah Disrupsi AI dan Krisis Sosial” yang diselenggarakan oleh Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) dengan dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jafar Shodiq, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, menyampaikan pemikiran strategis tentang arah baru kepemimpinan generasi muda Indonesia di tengah arus perubahan global yang semakin kompleks.
Di hadapan lebih dari 500 peserta yang terdiri dari pemuda desa, mahasiswa, dan komunitas sosial, Jafar menguraikan empat megatrend nasional yang menurutnya harus dipahami secara kritis oleh generasi muda agar mampu menavigasi kepemimpinan di era kecerdasan buatan (AI).
Menurut Jafar Shodiq, saat ini Indonesia tengah bergerak di tengah empat arus besar yang membentuk ulang tatanan sosial, politik, dan ekonomi bangsa.
Pertama, menguatnya digitalisasi politik dan media algoritmik, yang menggeser kontestasi publik dari ruang gagasan ke ruang persepsi.
“Kita memasuki era di mana algoritma lebih cepat membentuk opini publik dibanding nilai dan akal sehat manusia,” ungkapnya.
Kedua, ketimpangan ekonomi yang semakin melebar sebagai konsekuensi dari sistem ekonomi digital yang belum sepenuhnya inklusif. “Kesenjangan antara elite teknologi dan masyarakat akar rumput bisa menjadi sumber ketegangan sosial baru jika tidak diimbangi dengan kebijakan keberpihakan,” ujarnya.
Ketiga, berakhirnya generasi politisi reformasi yang meninggalkan ruang kosong kepemimpinan moral. Menurut Jafar, ruang itu kini menjadi tanggung jawab generasi muda untuk mengisinya dengan keberanian dan integritas.
“Politik tanpa nilai hanya akan melahirkan pemimpin yang kuat secara citra, tetapi rapuh secara nurani,” tegasnya.
Keempat, menguatnya kapitalisme digital dan oligarki informasi, di mana kekuasaan tidak lagi hanya di tangan politisi atau korporasi, tetapi juga pada aktor-aktor teknologi yang menguasai data.
“Kedaulatan bangsa ke depan bukan hanya soal sumber daya alam, tapi juga sumber daya data,” katanya. “Dan generasi muda harus memahami medan baru ini jika ingin menjadi pemimpin yang relevan di era AI.”
Jafar menilai bahwa politik hari ini semakin dikendalikan oleh logika persepsi, bukan rasionalitas publik. Ia mengingatkan, pemuda harus menjadi penyeimbang antara kecanggihan digital dan kedalaman moral.