Selaras Tradisi Keagamaan di Jawa Tengah: Wakil Ketua Fraksi PPP Jelaskan Alasan Kongkrit Mendukung 6 Hari Sekolah
- Istimewa
Jateng – Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD Provinsi Jawa Tengah menilai bahwa penerapan enam hari sekolah merupakan kebijakan yang lebih seimbang, lebih manusiawi, dan lebih selaras dengan karakter sosial-keagamaan masyarakat Jawa Tengah. H. Ja’far Shodiq, M.Hum., Wakil Ketua Fraksi PPP DPRD Provinsi Jawa Tengah, yang juga dikenal sebagai politisi muda PPP dengan perhatian besar pada isu pendidikan dan kesejahteraan pelajar.
Menurutnya, pilihan enam hari sekolah bukan sekadar teknis pembagian jadwal, tetapi merupakan kebijakan berbasis bukti ilmiah sekaligus menghormati ekosistem pendidikan lokal.
Ja’far mengungkapkan bahwa hasil penelitian global — mulai dari OECD, PISA, hingga meta- analisis akademik internasional — menunjukkan pola yang sangat jelas: jam belajar yang panjang tidak menjamin peningkatan prestasi akademik.
“Yang menentukan bukan lamanya waktu anak duduk di kelas, tetapi kualitas pembelajarannya. Data global sangat konsisten menunjukkan hal itu,” ujar Ja’far.
Dalam perspektif Fraksi PPP, kebijakan enam hari sekolah justru mengembalikan ritme yang lebih proporsional. Dengan membagi beban belajar ke hari Sabtu, anak dapat pulang lebih awal sepanjang pekan, memiliki waktu istirahat yang memadai, dan tetap bisa mengikuti pendidikan keagamaan di sore hari. Model ini bukan menambah beban, melainkan menyebarkan beban agar tidak menumpuk secara berlebihan.
“Madin dan TPQ bukan sekadar pengisi waktu luang. Keduanya adalah bagian dari identitas pendidikan masyarakat Jawa Tengah. Kebijakan pendidikan yang baik harus menghormati hal itu,” jelas Ja’far.
Fraksi PPP menegaskan bahwa kebijakan pendidikan tidak boleh mengabaikan tiga prinsip utama: bukti ilmiah, keseimbangan psikologis anak, dan kearifan lokal. Dalam konteks Jawa Tengah, ketiganya bertemu dalam kebijakan enam hari sekolah. PPP juga mendorong pemerintah daerah untuk memastikan sinkronisasi yang baik antara sekolah, madrasah diniyah, pesantren, serta orang tua.
“Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang seimbang. Anak membutuhkan kualitas belajar yang tinggi, istirahat yang cukup, serta ruang untuk menghidupi tradisi keagamaan. Enam hari sekolah menjaga ketiga hal itu,” tegas Fraksi PPP.