Ketua PGSI Jateng Sebut Tujuh Alasan Kembali Diterapkan Enam Hari Sekolah
- Istimewa
Jateng – Ketua PGSI (Persatuan Guru Seluruh Indonesia) Jawa Tengah H Muh Zen Adv SAg MSi mengatakan ada tujuh alasan kenapa kegiatan belajar mengajar dikembalikan enam hari. Pertama, Aspek psikologis. Anak usia Pendidikan Dasar, setelah jam 13.00 Siang, daya serap pikirannya sudah kurang maksimal, menurut Psikolog hanya mampu 60 persen. Artinya, kalau kegiatan belajar mengajar sampai jam 15.00 maka keterserapan materi pembelajaran pada anak usia SD- SMP tidak tercapai.
Kedua, Aspek sarana dan prasarana (sarpras). Bahwa kondisi sarpras Pendidikan untuk ibadah (musollla atau masjid) di sekolah belum mampu menampung Seluruh Siswa dan Guru yg beragama Islam untuk melaksanakan Ibadah Sholat duhur secara berjamaah, meskipun Bergantian dalam kurun waktu terbatas.
"Termasuk Sarpras untuk Berwudhu, Kebutuhan Air Suci, Rata rata hanya mampu menampung sebagian dari total jumlah siswa," katanya.
Ketiga, Aspek keamanan Siswa, ketika siswa pulang sore, Sebagian Siswa Berebut Tranportasi dengan para pekerja di perjalanan, Saat Bersamaan Siswa pulang sekolah dengan para buruh atau pekerja naik transportasi umum. Bahkan di beberapa daerah di jateng, anak pulang ada yg sampai malam. Tentu sangat riskan dan rawan bullying, dan tindakan kriminal di perjalanan.
Keempat, Aspek kompetensi non akademik ( psikomotorik dan afektif). KBM lima hari sekolah, selama ini telah mengurangi kegiatan kreatifitas anak dalam Pengembangan bidang olah raga, seni serta kegiatan peningkatan Skill lainnya. Termasuk interaksi sosial anak dengan temen temen sebayanya di lingkungan rumahnya juga berkurang.
"Kelima, Aspek geografis. Untuk sekolah di daerah pegunungan, pedesaan dengan transportasi yang masih sulit terakses angkutan umum, hal ini banyak dikeluhkan masyarakat, terlebih untuk anak anak perempuan," ujarnya.
Keenam, Aspek mental spiritual. Di Jateng terdapat 10.127 madrasah diniyah (madin) dan Puluhan Ribu TPQ, padahal 60% siswanya adalah anak usia SD dan SMP. Madin dan TPQ biasanya masuk pukul 14.00. selama diberlakukan Sekolah 5 hari untuk anak SD dan SMP sampai sore maka mereka Banyak yang tidak bisa mengikuti Kegiatan Pendidikan Keagamaan tersebut.
"Ketujuh, Aspek ketahanan keluarga. Siswa yang berasal dari keluarga Kurang mampu, biasanya usai pulang sekolah ikut membantu orangtuanya yang menjadi buruh, petani, berdagang, nelayan, dan sebagainya, membantu jaga rumah, jaga adik dll. Banyak keluarga harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya," tambahnya.