Fantastis! Wisata Jateng Meledak hingga 53 Juta Pengunjung, 5 Kota Ini Jadi Magnet Jutaan Wisatawan
- Istimewa
Jateng – Pariwisata Jawa Tengah kembali menunjukkan performa gemilang sepanjang 2025. Sepanjang Januari hingga Oktober, pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) telah mencapai 53 juta kunjungan, sementara wisatawan mancanegara (wisman) menembus angka 500.000 orang. Tren ini diprediksi masih akan naik hingga pergantian tahun.
Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Syurya Deta Syafri, menegaskan bahwa geliat pariwisata di provinsi ini semakin kuat dan terus menarik minat pengunjung dari dalam maupun luar negeri.
"Total kunjungan tersebut merupakan akumulasi kedatangan wisatawan melalui berbagai moda transportasi, mulai dari bandar udara, pelabuhan, hingga stasiun kereta api," kata Deta mengutip sejumlah sumber, pada Selasa (2/12/2025).
Adapun dari catatan Disporapar, Semarang kembali mencatatkan diri sebagai daerah dengan kunjungan paling tinggi. Tercatat 7,17 juta wisatawan singgah ke ibu kota Jawa Tengah tersebut. Kota Lama Semarang, Pantai Marina, serta Masjid Agung Jawa Tengah menjadi penyumbang terbesar lonjakan kunjungan—ditambah dukungan akses transportasi yang semakin nyaman.
Daerah lain juga menunjukkan performa kuat. Klaten berada di posisi kedua dengan 5,68 juta kunjungan, terutama karena daya tarik Candi Prambanan. Disusul Demak dengan 4,57 juta kunjungan berkat potensi wisata religi. Purbalingga dan Kudus juga mencatat masing-masing 3,10 juta dan 3,05 juta wisatawan yang sebagian besar mencari wisata heritage dan religi.
Jika dilihat dari objek wisatanya, Kota Lama Semarang menduduki puncak destinasi terfavorit sepanjang tahun dengan 2,97 juta kunjungan. Menyusul di bawahnya adalah sejumlah ikon wisata religi, yakni Masjid Agung Demak (2,05 juta), Makam Sunan Kudus (1,81 juta), dan Makam Sunan Kalijaga (1,79 juta).
Dari sisi ekonomi, lonjakan jumlah wisatawan ini memberi dampak signifikan. Sampai triwulan III 2025, pertumbuhan PDRB sektor pariwisata Jateng mencapai 11,79 persen—angka tertinggi dibandingkan sektor unggulan lain.
"Kami mengapresiasi peran panitia event, komunitas kreatif, pelaku seni budaya, mitra perbankan, serta dunia usaha yang dinilai konsisten menghadirkan beragam event berkualitas di Jawa Tengah," imbuhnya.
Deta juga menekankan bahwa kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci terbentuknya ekosistem pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Ia berharap setiap penyelenggaraan event tidak sekadar mengincar jumlah pengunjung, tetapi juga memperkuat identitas budaya, religi, dan karakter kota di Jawa Tengah sebagai strategi penguatan wisata terpadu di masa mendatang.