Dari Limbah Pelepah Pisang jadi Devisa! Ini Kisah Pasangan Jakarta Ubah Sampah di Kebumen dan Ekspor Hingga ke Amerika
- (ANTARA/Sumarwoto)
Jateng – Keputusan untuk pulang ke daerah kerap dianggap sebagai kemunduran. Namun, bagi Novita Hermawan, hijrah ke kampung halaman suaminya di Desa Selang, Kebumen, Jawa Tengah (Jateng), justru menjadi awal kisah suksesnya. Sebelum pandemi, Novita bekerja di perusahaan kontraktor di Jakarta, sementara suaminya, Rudi Hermawan, berkarir di anak perusahaan BUMN telekomunikasi. Ketika pandemi datang dan kontrak kerja suaminya terhenti, mereka memutuskan pulang ke Kebumen.
“Kami akhirnya memutuskan pulang ke Kebumen naik sepeda motor. Tidak ada rencana besar waktu itu, yang penting bisa bertahan,” kata Novita yang asli Betawi.
Awalnya mereka mencoba usaha mina padi, namun kurang berhasil. Perhatian mereka kemudian tertuju pada limbah pelepah pisang yang melimpah di daerah tersebut, yang biasanya dibiarkan membusuk atau dibakar. Melihat potensi seratnya yang kuat, mereka mulai meneliti pengolahan pelepah pisang dan tren produk ramah lingkungan global.
Pada 2021, mereka mendirikan PT Agromina Fiber Java Indonesia sebagai social enterprise yang berfokus pada pemberdayaan limbah. “Kami ingin punya tanggung jawab terhadap lingkungan, tapi tetap harus bisa menghasilkan nilai ekonomi,” kata Novita yang kini menjabat sebagai Chief Marketing Officer (CMO) seperti dikutip dari Antara, Jumat (23/1/2026).
Agromina mengolah pelepah pisang menjadi serat bahan baku, lalu memproduksinya menjadi keranjang, dekorasi dinding, dan kap lampu. Prinsip zero waste diterapkan dengan mengolah sisa bahan menjadi bio-leather. “Banyak yang bicara soal keberlanjutan, tapi berhenti di slogan. Kami mencoba menjalankannya dari awal sampai akhir,” tegas Novita.
Perjalanan tidak mudah. Dua tahun pertama digunakan untuk edukasi perajin agar memenuhi standar kualitas ekspor. Kini, Agromina memberdayakan sekitar 170 perajin (70% di antaranya perempuan) yang tersebar di beberapa kabupaten di Jawa Tengah dengan sistem klaster.
Usaha keras membuahkan hasil. Produk mereka berhasil menembus pasar ekspor ke Nigeria, Dubai, Chile, Argentina, Belgia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Pengiriman ke AS dilakukan rutin setiap dua bulan. Agromina juga telah mengantongi sertifikat ISO 14001 dan ISO 9001, serta hak kekayaan intelektual.
Komitmen sosial diwujudkan dengan membina santri, pemuda tani, hingga warga binaan rumah tahanan. Prestasi Novita pun diakui secara nasional dengan masuk 10 besar Pertapreneur Aggregator. Ke depan, Agromina terus berinovasi, salah satunya riset kertas ramah lingkungan dari serat pisang yang bisa ditanam kembali.