Imbas Banjir Gunung Slamet, DLH Banyumas Minta Warga Stop Gunakan Air Sungai

Gunung Slamet
Sumber :
  • Jateng – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas mengimbau masyarakat untuk membatasi sementara pemanfaatan air sungai menyusul turunnya kualitas air akibat banjir bandang yang terjadi di sejumlah sungai berhulu di lereng Gunung Slamet, Sabtu (24/1/2026).
img_title Pengolah Sampah Terpadu Banyumas Jadi Prioritas Nasional, Masalah Sampah Ditarget Tuntas 2–3 Tahun

Kepala DLH Banyumas Widodo Sugiri mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan sejumlah parameter pencemar air berada jauh di atas baku mutu yang ditetapkan, sehingga air sungai belum layak digunakan secara optimal.

“Berdasarkan kajian kualitas air, beberapa parameter seperti kekeruhan, Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD) berada di atas ambang batas. Untuk sementara, kami imbau masyarakat agar tidak memanfaatkan air sungai secara penuh dan melakukan pembatasan penggunaan,” kata Widodo di Purwokerto, Rabu 28 Januari 2026.

img_title Prabowo Disambut Hangat Warga Banyumas Saat Ziarah ke Makam Margono Djojohadikusumo, Warga: Sehat Selalu!

Ia menjelaskan, kondisi tersebut terutama berdampak pada aktivitas yang bersentuhan langsung dengan air sungai, seperti budi daya perikanan, peternakan, hingga kebutuhan domestik.

Sungai Pelus Paling Terdampak

img_title Nurul Furqon Salurkan 100 Paket Korban Banjir Demak

DLH Banyumas mencatat, hasil pemantauan melalui sistem Online Monitoring Mutu Air (Onlimo) milik Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kondisi paling terdampak terjadi di Sungai Pelus bagian tengah.

Pada Stasiun Onlimo KLHK253 di Bendung Pandak Raden, Desa Pandak, Kecamatan Baturraden, nilai Total Suspended Solid (TSS) tercatat mencapai 427,11 miligram per liter pada 25 Januari 2026. Angka tersebut jauh melampaui baku mutu air kelas II yang ditetapkan sebesar 50 miligram per liter.

Selain itu, parameter BOD terpantau mencapai 356,93 miligram per liter, sementara COD berada di angka 613,62 miligram per liter. Kedua nilai tersebut juga melampaui ambang baku mutu air kelas II, masing-masing 3 miligram per liter untuk BOD dan 25 miligram per liter untuk COD.

Widodo menyebut tingginya parameter pencemar tersebut dipicu oleh material lumpur dari lereng Gunung Slamet yang terbawa arus sungai saat banjir bandang.

“Material lumpur ini meningkatkan kekeruhan air dan menyebabkan pendangkalan di beberapa titik sungai,” ujarnya yang dikutip dari Antara.

Waspadai Dampak ke Warga Bantaran Sungai

Menurut Widodo, penurunan kualitas air sungai berpotensi berdampak langsung terhadap pertanian, perikanan, serta permukiman warga di bantaran sungai.

Halaman Selanjutnya
img_title