Viral! Jalan Beton di Semarang 'Dilubangi' untuk Pasar Dugderan Jelang Puasa Ramadan, Ini yang Terjadi Selanjutnya

Ilustrasi pasar.
Sumber :
  • (wherda/unsplash)

Jateng – Penyelenggaraan Pasar Dugderan, tradisi tahunan menyambut Ramadan di Kota Semarang, kini justru disorot akibat dampaknya terhadap fasilitas publik. Sejumlah wahana permainan yang didirikan di Jalan Ki Narto Sabdo diduga menyebabkan kerusakan pada badan jalan beton, tepatnya dengan adanya lubang-lubang yang dibuat untuk pemasangan pondasi wahana.

img_title Turun ke Jalan, Perempuan Bangsa Jateng Bagikan Ribuan Paket Takjil

Foto dan keluhan mengenai hal ini ramai beredar di media sosial, memicu perdebatan warganet antara semangat melestarikan tradisi dan pentingnya menjaga infrastruktur umum. Apa ang terjadi selanjutnya?

Menanggapi viralnya isu ini, seperti dikutip dari sejumlah sumber, Jumat (6/2/2026), Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, yang akrab disapa Iin, menegaskan bahwa pihaknya telah memberikan rekomendasi awal. "Pasar Dugderan itu ada yang berupa dagangan, ada wahana permainan, dan semua sudah kami siapkan. Dalam rekomendasi kami sudah disebutkan tidak boleh merusak fasilitas umum," tegas Iin.

img_title Rekomendasi Tempat Bukber Tegal, Ada yang Buka Sampai Malam

Iin menjelaskan lebih lanjut bahwa kendati memberikan rekomendasi, pengawasan teknis dan pelaksanaan di lapangan sepenuhnya berada di bawah kewenangan Dinas Perdagangan Kota Semarang. "Kalau di lapangan ada dinas yang mengawasi, yaitu Dinas Perdagangan. Untuk Pasar Dugderan sendiri, kami tidak ikut di dalamnya. Leading-nya di Dinas Perdagangan," jelasnya.

Pernyataan ini menunjukkan adanya pembagian tanggung jawab yang jelas antar instansi dalam penyelenggaraan acara tersebut.

img_title Deretan Takjil Khas Purwokerto yang Wajib Dicoba, Ada yang Harus Disedot

Meski demikian, Indriyasari menyatakan bahwa persoalan yang telah menjadi perhatian publik ini tidak akan diabaikan. Dia meyakini akan ada langkah tindak lanjut dari instansi terkait untuk menindaklanjuti temuan di lapangan. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa pemasangan wahana yang diduga merusak jalan kemungkinan tidak sesuai dengan rekomendasi atau izin yang diberikan, dan memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Insiden ini menyisakan pertanyaan tentang bagaimana tradisi budaya yang bersifat temporer dapat beradaptasi dengan kebutuhan modern untuk menjaga aset publik yang permanen. Perlu adanya koordinasi dan pengawasan yang lebih ketat agar kegembiraan menyambut bulan suci tidak justru meninggalkan "luka" bagi infrastruktur kota.