Sarif Kakung Minta Pemprov Pastikan Distribusi Pangan Lancar selama Lebaran

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah
Sumber :
  • Istimewa

Jateng – Faktor cuaca dalam distribusi pangan harus menjadi perhatian pemerintah provinsi Jawa Tengah jelang datangnya bulan Ramadan dan Idulfitri.

img_title Perkuat Akses Produk Lokal agar Tembus Pasar Global

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan perlunya langkah mitigasi risiko cuaca ekstrem dalam beberapa pekan ke depan. 

“Sebab, jika tidak ditangani, potensi hujan lebat dan banjir bisa berdampak langsung pada jalur distribusi pangan dan akses transportasi,” ungkapnya.

img_title Krisis Air Bersih Mengintai Jawa Tengah, Legislator Dorong Konservasi Hutan Skala Besar

Badan Urusan Logistik (Bulog) Jateng mencatat, ketersediaan berada di wilayah ini masih 330 ribu ton. Angka itu cukup untuk tujuh bulan ke depan, termasuk dalam menghadapi Idulfitri.

“Katakanlah stop masih sangat cukup, dan menjadi modal penting menghadapi kebutuhan menjelang Ramadan dan Lebaran. Namun yang perlu diantisipasi adalah kemungkinan anomali cuaca menjelang Ramadan. Kalau terjadi banjir dan akses jalan terganggu, distribusi akan terhambat dan itu bisa memengaruhi harga di lapangan,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

img_title BUMD di Jateng harus Berinovasi untuk Pembangunan Daerah

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah

Photo :
  • Istimewa

Kakung mengingatkan, potensi lonjakan harga bisa saja dimanfaatkan oleh para spekulan dan oknum pelaku usaha.

“Karena tantangan utama bukan hanya pada jumlah stok, melainkan pada stabilitas harga di pasar. Ini juga harus mendapat perhatian,” terang legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.

Atas dasar itu, lanjut Kakung, pemerintah juga harus melakukan pengawasan langsung harga komoditas di pasar untuk memastikan harga sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Selain distribusi pangan, Kakung juga menyoroti dampak lanjutan terhadap produksi. Sebab, berdasarkan pengamatannya, banjir yang terjadi di wilayah pertanian berisiko menyebabkan gagal panen dan penurunan produksi.

“Sehingga juga dapat menyulitkan penyerapan gabah oleh Bulog pada periode pasca-Lebaran,” tandasnya.