Resep Indikator untuk Demokrat: Perkuat Jatim-Jateng, Rangkul Nahdliyin hingga Pemilih Muda
- Istimewa
Jateng – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Burhanuddin Muhtadi memetakan sejumlah pekerjaan strategis Partai Demokrat untuk memperbesar basis elektoralnya ke depan. Selain memperkuat identitas dan pembeda politik, Demokrat dinilai perlu memperluas representasi sosialnya, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta di kalangan Nahdliyin, perempuan, dan pemilih muda.
“Demokrat harus terus relevan. Caranya dengan memperkuat representasi deskriptif dan memperkuat sisi pembeda yang bisa memudahkan pengenalan party ID kepada pemilih. Demokrat juga harus memperkuat dua kantong utama elektoral, yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk representasi Nahdliyin, perempuan, dan kedekatan dengan basis Jawa,” kata Burhan dalam Sarasehan 25 Tahun Partai Demokrat di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Menurut Burhan, Demokrat sebenarnya memiliki modal untuk melakukan ekspansi tersebut. Elektabilitas Demokrat dalam survei terakhir yang dipaparkannya telah mencapai 9,1 persen. Di kalangan generasi muda, Demokrat juga dikenal sebagai salah satu partai yang memiliki kedekatan dengan isu lingkungan dan perubahan iklim—isu yang semakin mendapat perhatian generasi baru.
Sementara itu, Profesor Greg Barton dari Deakin University, Australia, juga melihat tantangan serupa. Namun, ia menekankan pentingnya Demokrat memperkuat penetrasi kepada kelompok masyarakat menengah ke bawah. Menurutnya, partai tidak dapat terlalu menggantungkan konsolidasi dukungan pada kelas menengah-atas karena kelompok tersebut cenderung lebih kritis, skeptis, dan memiliki loyalitas politik yang lebih cair.
“Demokrat harus memperjelas positioning politiknya, memperkuat kebijakan yang relevan dengan Generasi Z dan Alpha, serta semakin dekat dengan masyarakat menengah ke bawah. Jangan hanya menyentuh kelompok menengah-atas karena mereka cenderung skeptis dan loyalitas politiknya lebih cair,” ujar Greg.
Masukan Burhan dan Greg memperlihatkan dua tantangan yang saling berkaitan. Demokrat membutuhkan identitas politik yang mudah dikenali sekaligus basis sosial yang semakin luas. Penguatan party ID perlu berjalan beriringan dengan ekspansi teritorial di Jawa dan perluasan representasi kelompok sosial serta generasi pemilih baru.
Dengan komposisi pemilih Indonesia yang terus berubah, kemampuan menjaga relevansi menjadi tantangan penting bagi Demokrat setelah memasuki usia 25 tahun. Modal elektoral yang ada perlu dikonsolidasikan melalui diferensiasi politik yang jelas, regenerasi, representasi yang lebih luas, dan kedekatan nyata dengan kelompok masyarakat yang menjadi basis pertumbuhan suara ke depan.