Wamentan Sudaryono & BMKG Bangun Sistem Peringatan Dini untuk Selamatkan Produksi Pangan
- Ist
Jakarta – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menegaskan bahwa masa depan pertanian Indonesia sangat ditentukan oleh integrasi data cuaca dan iklim menjadi informasi yang sederhana, mudah dipahami, dan siap digunakan oleh penyuluh di lapangan guna mewujudkan pertanian modern. Hal tersebut disampaikan dalam audiensi bersama Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Wamentan Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar menilai bahwa Indonesia memiliki infrastruktur dan basis data iklim yang kuat, mulai dari prakiraan musim, prediksi curah hujan, monitoring ENSO, indeks kekeringan, hingga kesesuaian agroklimat. Namun data tersebut harus diolah dan disajikan secara operasional agar benar-benar membantu penyuluh di lapangan.
“Kita sudah punya infrastruktur, datanya ada, analisanya ada. Yang kurang adalah integrasi dan penerjemahan data menjadi bahasa yang sederhana. Data harus menjadi informasi,” tegas Wamentan Sudaryono.
Ia menambahkan bahwa informasi tersebut harus dipadankan dengan kondisi lahan dan tipografi wilayah agar rekomendasi penyuluh menjadi lebih presisi dan efektif.
“Ini bukan untuk petani langsung, tetapi untuk penyuluh. Mereka yang harus menerima informasi yang sudah dipadankan dengan kondisi di lapangan,” lanjutnya.
Sementara itu, dalam pertemuan tersebut, Kepala BMKG, Faisal Fathani memaparkan berbagai layanan iklim terapan, sistem peringatan dini, serta platform data pendukung sektor pangan nasional.
Menurutnya, informasi iklim berpengaruh langsung terhadap produktivitas pertanian. Produktivitas padi turun pada fase El Niño dan meningkat pada La Niña, sehingga informasi iklim menjadi instrumen mitigasi risiko gagal panen.
"BMKG memiliki berbagai layanan untuk mendukung sektor pertanian, mulai dari prediksi hujan, kalender tanam iklim, peringatan dini kekeringan, indeks ketersediaan air tanah, neraca air lahan, sekolah lapang iklim, hingga platform digital cuaca untuk rantai distribusi pangan," tuturnya.
Faisal juga memperkenalkan BMKG–AWIS (Agricultural Weather Information System), yaitu sistem informasi iklim pertanian terpadu yang menyediakan prediksi cuaca, curah hujan, kelembapan tanah, indeks kekeringan, hingga rekomendasi waktu tanam.
Sistem ini dirancang agar dapat terhubung dengan aplikasi penyuluh Kementan sehingga informasi iklim dapat dimanfaatkan dengan cepat dan tepat. Selain itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) ditegaskan sebagai instrumen efektif menambah suplai air, mengisi waduk, menjaga irigasi, dan meningkatkan produksi.