Mengerikan! Al-Qur’an Ungkap 2 Sumber Air Saat Banjir Besar di Era Nabi Nuh
- BPBD Kabupaten Tapanuli Utara
Jateng – Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menyisakan duka mendalam bagi masyarakat luas. Hujan ekstrem yang turun beberapa waktu lalu membuat aliran sungai meluap dan membawa material besar sehingga meluluhlantakkan permukiman warga.
Dalam sejarah umat terdahulu, Al-Qur’an merekam salah satu peristiwa banjir paling dahsyat yang pernah terjadi di muka bumi, yakni banjir besar pada masa Nabi Nuh AS. Peristiwa ini bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi menjadi pelajaran besar tentang kekuasaan Allah dan akibat dari pembangkangan manusia.
Menariknya, Al-Qur’an menggambarkan banjir dahsyat tersebut bukan datang dari satu arah, melainkan dari dua sumber air yang saling berpadu, yang membuat bencana itu mencapai tingkat kehancuran yang luar biasa.
Berikut penjelasan tentang dua sumber air yang menyebabkan banjir besar pada masa Nabi Nuh AS, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber, Jumat (28/11/25).
Turun dari Langit
Melalui ayat-ayat-Nya dan penjelasan para mufasir, dijelaskan bahwa salah satu sumber air yang menyebabkan banjir tersebut datang dari langit. Firman Allah SWT:
فَفَتَحْنَآ اَبْوَابَ السَّمَاۤءِ بِمَاۤءٍ مُّنْهَمِرٍۖ
“Lalu, Kami membukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.” (QS Al-Qamar Ayat 11).
Menurut Tafsir Kementerian Agama, frasa “membukakan pintu-pintu langit” menunjukkan betapa deras dan terus-menerusnya hujan yang diturunkan Allah, seakan-akan langit memiliki pintu-pintu besar yang terbuka lebar untuk mencurahkan air tanpa henti. Gambaran ini menandakan turunnya hujan dalam volume luar biasa, bukan sekadar hujan lebat biasa.
Para mufasir juga menjelaskan bahwa kata “مُنْهَمِرٍ” berarti air yang mengalir dan tercurah dengan kekuatan besar. Ini menggambarkan bahwa hujan tersebut turun deras, derasnya melampaui ukuran normal, sebagai bagian dari hukuman Allah terhadap kaum yang tetap mendustakan wahyu setelah diajak bertahun-tahun untuk kembali kepada jalan kebenaran.
Ayat ini sekaligus menegaskan kekuasaan Allah: ketika Dia menghendaki sebuah peristiwa besar terjadi, langit dan bumi tunduk sepenuhnya pada perintah-Nya. Banjir besar di zaman Nabi Nuh bukan sekadar fenomena alam, tetapi manifestasi langsung dari keputusan Ilahi terhadap kaum yang terus membangkang.