Said Aqil: Hindari Mudarat Lebih Besar, PBNU Baiknya Kembalikan Konsesi Tambang ke Pemerintah
- Wikipedia
Jateng – Perselisihan dalam tubuh PBNU menyedot perhatian masyarakat. Kondisi ini dinilai sebagai polemik konsensi tambang yang diberikan pemerintah kepada PBNU.
Salah satu tanggapan muncul dari Said Aqil Siroj. Dalam kesempatan silaturahmi di Pesantren Tebuireng, Jombang, dia menyampaikan bahwa setelah melalui evaluasi yang jernih terhadap dinamika terakhir, ia menilai bahwa konsesi tambang sebaiknya dikembalikan kepada pemerintah demi menghindari mudarat yang semakin nyata bagi jam’iyah.
KH Said Aqil menjelaskan, pada awalnya ia memandang kebijakan pemerintah yang memberikan konsesi tambang kepada PBNU sebagai bentuk apresiasi negara terhadap kontribusi NU dan sebagai peluang untuk memperkuat kemandirian ekonomi organisasi. Pada saat itu, langkah tersebut dianggap tepat, selama dikelola dengan tata kelola yang kuat serta membawa manfaat nyata bagi warga NU.
Namun, menurut beliau, situasi yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir justru menunjukkan hal yang berbeda. Konflik internal yang muncul di tubuh PBNU, perdebatan mengenai tata kelola, serta polemik yang melebar ke ruang publik telah menimbulkan kegaduhan yang merugikan organisasi.
“Saya sejak awal menghormati inisiatif pemerintah. Itu bentuk penghargaan yang baik. Tetapi melihat apa yang terjadi belakangan ini, konflik semakin melebar, dan itu membawa madharat yang lebih besar daripada manfaatnya. Maka jalan terbaik adalah mengembalikannya kepada pemerintah,” ujar KH. Said Aqil di hadapan para kiai Tebuireng.
KH. Said Aqil menegaskan,NU sebagai Jam’iyah Diniyah Ijtima’iyah memiliki mandat spiritual dan sosial yang sangat besar. Karena itu, organisasi harus menghindari aktivitas yang berpotensi menimbulkan konflik internal dan polarisasi kader, mengganggu marwah dan independensi organisasi, memunculkan persepsi negatif publik terhadap NU, menyeret jam’iyah ke dalam dinamika bisnis dan politik yang berisiko tinggi, dan mengaburkan prioritas besar NU dalam pendidikan, dakwah, kesehatan, dan pemberdayaan umat
“NU ini rumah besar umat. Jangan sampai terseret pada urusan yang membawa kegaduhan dan menjauhkan kita dari khittah pendirian. Kalau sebuah urusan membawa lebih banyak mudarat, maka tinggalkan. Kembalikan supaya NU fokus pada tugas-tugas sucinya,” tegas KH. Said Aqil.