Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, curah hujan diperkirakan meningkat signifikan di berbagai daerah, mulai dari Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh keberadaan satu siklon dan dua bibit siklon di sekitar wilayah Indonesia.
“Terdapat siklon Bakung serta bibit siklon 93S dan 95S yang berpotensi memicu hujan ekstrem,” ujar Faisal saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).
Menurut Faisal, modifikasi cuaca dilakukan untuk mencegah awan hujan bergerak ke daratan padat penduduk. Awan yang berpotensi menimbulkan hujan lebat akan disemai agar hujannya turun di wilayah yang lebih aman.
“Operasi modifikasi cuaca kita lakukan untuk mencegah awan hujan mendekati daratan. Jika mendekat, awan tersebut kita semai menggunakan NaCl agar hujan jatuh di perairan atau wilayah yang tidak berbahaya,” jelasnya dikutip dari Antara.
Ia menambahkan, apabila awan hujan sudah berada tepat di atas wilayah rawan seperti Jakarta, BMKG menerapkan metode lain.
“Kalau sudah sampai di atas Jakarta, kita tebarkan kapur tohor atau CaO supaya awan terpecah dan tidak terjadi hujan lebat,” imbuhnya.
Faisal menyebut, berdasarkan evaluasi, teknologi modifikasi cuaca mampu menurunkan intensitas curah hujan hingga 20 sampai 50 persen. Menurutnya, langkah ini efektif untuk membantu mitigasi bencana meteorologi akibat cuaca ekstrem.
“Ini membantu mengendalikan potensi bencana yang mungkin ditimbulkan oleh kondisi cuaca ekstrem,” kata dia.
Saat ini, BMKG melakukan modifikasi cuaca di enam titik, di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Lampung, serta wilayah lain yang dinilai rawan hujan ekstrem.
Selain itu, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di bawah koordinasi Kementerian Perhubungan juga mengembangkan platform informasi cuaca untuk mendukung keselamatan transportasi darat, laut, dan udara.
BMKG terus berkoordinasi dengan berbagai instansi, termasuk BNPB, BPBD, dan Basarnas, untuk melakukan pemantauan dan antisipasi secara berkelanjutan.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada namun tidak panik. Selama kondisi terus dipantau, kita dapat bersiap menghadapi potensi curah hujan tinggi dan gelombang tinggi,” pungkas Faisal.