Filosofi Jawa di Balik Sayur Lodeh dan Bubur Suro, Bukan Sekadar Makanan Biasa.

Ilustrasi lodeh, sayur lodeh, ilustrasi sayur lodeh, sayur.
Sumber :
  • (jcomp/freepik)

JatengIndonesia tak hanya kaya akan cita rasa, tetapi juga sarat makna di balik setiap hidangannya. Beberapa kuliner tradisional ternyata menyimpan filosofi hidup yang dalam, seringkali disajikan dalam momen-momen khusus sebagai bentuk doa dan harapan.

img_title Deretan Takjil Khas Purwokerto yang Wajib Dicoba, Ada yang Harus Disedot

Mari kita mengulik dua di antaranya: Sayur Lodeh yang penuh simbol perlindungan dan Bubur Suro yang menjadi penanda refleksi tahun baru.

Berikut ini ulasannya, mengutip sejumlah sumber, Jumat (8/1/2026):

img_title 3 Rekomendasi Kuliner Takjil Ramadan di Batang Ini Wajib Masuk Daftar Buruan Ngabuburit Kamu

1. Sayur Lodeh: Lebih Dari Sekadar Sayur Santan

Makanan khas Nusantara satu ini memiliki arti unik jika disajikan dalam sebuah acara, lho.

img_title 2 Kuliner Khas Jateng Ini Paling Dicari Saat Waktu Berbuka Tiba

Pada acara selametan, sayur lodeh dihidangkan karena dilambangkan sebagai tolak bala. Filosofi ini terkait erat dengan 12 bahan penyusunnya, seperti labu kuning, kacang panjang, terong, dan kluwih. Angka 12 (1+2=3) dalam filosofi Jawa melambangkan ikhtiar untuk meraih kehidupan yang dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Setiap bahan juga punya makna sendiri. Labu kuning (waluh) diartikan sebagai wal (lepas) dan luh (air mata), simbol pembebasan dari penderitaan. Penggunaan santan dari kelapa hijau dalam tradisi dipercaya sebagai penawar racun, sekaligus simbol penangkal “racun” duniawi seperti keserakahan dan kemewahan yang dapat merusak hidup manusia.

2. Bubur Suro: Simbol Refleksi Menyambut Tahun Baru

Bubur Suro dikenal sebagai hidangan tradisional yang disajikan untuk memperingati Tahun Baru Islam, khususnya 1 Muharam atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa.

Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa dan masih terus dilestarikan hingga kini, terutama di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Solo.

Secara filosofi, bubur Suro bukanlah sesajen, melainkan simbol atau perlambang spiritual. Bubur ini dianggap sebagai uba rampe, yaitu alat atau media untuk merefleksikan makna dari datangnya tahun baru.

Bubur Suro biasanya terbuat dari beras yang dimasak dengan santan dan rempah seperti serai dan daun salam, sehingga menghasilkan cita rasa gurih. Di beberapa daerah, bubur ini disajikan dengan tujuh jenis kacang, irisan jeruk Bali, dan buah delima sebagai simbol doa untuk kelancaran, keberkahan, dan keselamatan sepanjang tahun yang baru.