Rahasia Filosofi dalam Makanan Jawa: Lemper, Kolak, dan Lontong Bukan Cuma untuk Isi Perut

Lemper, ilustrasi lemper.
Sumber :
  • (mrsiraphol/freepik)

Jateng – Bagi masyarakat Jawa, makanan tidak sekadar alat untuk mengenyangkan perut, melainkan juga mengandung makna filosofis yang mendalam.

img_title Komisi E DPRD Jateng Usulkan Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal demi Jamin Kesejahteraan Warga

Sebagai contoh, hidangan seperti kupat dan kolak menjadi simbol nilai-nilai kehidupan dan ajaran moral, sekaligus alat untuk mengajarkan nilai-nilai luhur. Bahkan, para ulama dahulu menggunakan makanan sebagai media penyebaran agama Islam.

Berikut adalah beberapa makanan tradisional Jawa yang memiliki makna filosofis mendalam, dirangkum dari sejumlah sumber, Selasa (13/1/2026):

img_title Setya Arinugroho Desak Transparansi Data DTSEN dan Perketat Validasi Penerima KIP Kuliah

1. Lemper: Ten Dialem Atimu Ojo Memper

Lemper terbuat dari ketan berisi abon atau daging, dibungkus daun pisang. Makanan ini tidak hanya enak, tetapi juga menjadi simbol ajaran luhur. Nama "lemper" mengingatkan untuk tetap rendah hati saat dipuji. Ketan yang lengket mencerminkan persaudaraan, dan dalam hajatan, lemper melambangkan harapan rezeki.

img_title Isu Penutupan Prodi Jadi Alarm Keras Ketidaksinkronan Kampus dan Pasar Kerja

Dalam tradisi Rebo Pungkasan di Yogyakarta dan Jawa Tengah, lemper raksasa dibagikan sebagai ungkapan syukur dan doa keselamatan. Daun pembungkusnya melambangkan hal-hal buruk yang harus dibersihkan, sementara isinya menandakan kebahagiaan akhirat setelah menjalani kehidupan dunia. Lemper mengajarkan kerendahan hati bahwa manusia memiliki kekurangan dan segala yang dimiliki adalah anugerah Tuhan.

2. Kolak: Khaliq/Khalaqa

Kolak terbuat dari pisang atau ubi jalar yang direbus dengan santan dan gula aren, sering dihidangkan saat bulan Ramadhan. Nama "kolak" diyakini berasal dari kata "khalaqa" atau "khaliq," yang berarti "menciptakan" atau "Sang Pencipta."

Hidangan ini menjadi pengingat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengendalikan hawa nafsu. Pisang kepok diartikan sebagai "kapok," mengajarkan untuk bertobat atas dosa, sedangkan ubi jalar (telo pendem) secara simbolis mengajak untuk mengubur kesalahan dan menggali kebaikan.

3. Lontong: Olone Dadi Kothong

Lontong adalah beras yang dibungkus daun pisang dan direbus hingga matang, sering disajikan dalam hidangan seperti gado-gado atau soto. Bagi masyarakat Jawa, lontong memiliki makna "olone dadi kothong," yang artinya kejelekannya hilang atau sudah tidak ada lagi.

Makna ini berkaitan dengan bulan Ramadhan dan Idul Fitri, di mana umat Islam diharapkan kembali suci setelah berpuasa. Adapun ekstur lontong yang lembut melambangkan hati yang terbuka terhadap nasihat dan mudah menolong orang lain. Istilah ini juga dikaitkan dengan kata "klontong" (jembatan kecil), yang mengajarkan bahwa hati yang lapang memungkinkan kita membantu sesama.