Kue Apem: Dari Makkah ke Jawa, Simbol Ampunan yang Jadi Rebutan Ribuan Orang
- (azerbaijan_stockers/Freepik)
Jateng – Dalam khasanah kuliner Nusantara, ada kue yang naik statusnya dari sekadar camilan menjadi simbol spiritual yang mendalam: Apem. Kue berbahan sederhana—tepung beras, tape, dan santan—yang dimasak dalam cetakan ini, menyimpan narasi sejarah, filosofi hidup, dan fungsi sosial yang begitu kaya dalam masyarakat Jawa.
Mengutip badanbahasa.kemendikdasmen.go.id, Kamis (15/1/2026), diketahui bahwa kisahnya bermula dari seorang penyebar Islam di era Mataram, Ki Ageng Gribig. Sepulang dari menunaikan ibadah haji di Makkah, sang ulama ingin membagikan oleh-oleh berupa kue dari tanah suci kepada para tamu yang membludak di rumahnya. Sayangnya, kue itu tak cukup. Berkat ketulusan hati, ia dan istrinya lantas membuatkan kue serupa untuk semua tamu. Dari peristiwa penuh kebijaksanaan inilah apem mulai menyebar.
Nama "apem" sendiri diyakini berasal dari kata Arab "afwan" atau "affuwun", yang berarti "maaf" atau "ampunan". Kesulitan lidah Jawa melafalkannya mengubahnya menjadi "apem". Dengan demikian, sejak dari namanya, kue ini telah menjadi simbol permohonan ampun manusia kepada Tuhannya atas segala salah dan khilaf.
Bentuknya yang bulat melambangkan kesempurnaan doa dan media penghubung dengan Sang Pencipta. Kesederhanaan bahan dan cara pembuatannya mengajarkan tentang hidup yang tidak berlebihan dan penuh syukur. Rasa nikmat yang dihasilkan dari bahan-bahan sederhana itu sendiri adalah pelajaran tentang menemukan kebahagiaan dalam hal yang pokok.
Nilai sosial apem terlihat dalam dua tradisi besar:
Tradisi Yaqowiyu di Jatinom, Klaten: Sebuah ritual akbar di bulan Safar dimana dua gunungan apem raksasa diarak dan kemudian diperebutkan ribuan orang setelah Salat Jumat. Tradisi yang diawali Ki Ageng Gribig ini bukan keramaian biasa, melainkan simbol penyebaran ampunan dan sedekah kepada masyarakat luas.
Kenduri Ruwahan: Menjelang bulan Ramadhan, apem menjadi sajian wajib dalam kenduri untuk mendoakan arwah leluhur. Apem yang dibagikan kepada tetangga dalam tradisi ini merefleksikan nilai sedekah, silaturahmi, dan rasa syukur atas kehidupan.
Refleksi Modern
Di tengah gaya hidup modern, apem mengingatkan kita pada esensi kemanusiaan: untuk senantiasa introspeksi dan memohon ampun, untuk membuka tangan memberi (bersedekah), dan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama dan alam (lewat kenduri). Ia adalah medium pengingat yang lembut bahwa dalam kesederhanaan, ada kedalaman makna; dalam sepiring kue, tersimpan ajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik.