Isra Mi'raj Bukan Seremonial Belaka! Ini Pesan Menag Biar Bisa Naik Kelas dalam Beragama
- dok Kemenag
Jateng – Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan bahwa peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada seremoni keagamaan, melainkan menjadi momentum untuk membangun etika sosial dan peradaban masyarakat modern.
Hal tersebut disampaikan Menag saat memberikan tausyiah dalam peringatan Isra Miraj tingkat Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Rabu malam 14 Januari 2026. Menurutnya, Isra Miraj mengandung nilai strategis untuk menjawab tantangan kehidupan kontemporer, mulai dari degradasi moral hingga krisis spiritual di ruang publik.
“Isra Miraj bukan sekadar peristiwa historis. Ia mengandung pesan spiritual, intelektual, dan sosial yang sangat relevan bagi kehidupan umat manusia sepanjang zaman,” ujar Menag Nasaruddin Umar yang dikutip dari Antara, Kamis (15/1/2026).
Menag menyoroti makna Isra Miraj sebagai perjalanan spiritual dari masjid ke masjid, yang mengandung pesan simbolik bahwa seluruh dimensi kehidupan manusia sejatinya harus bernilai ibadah. Konsep ini, kata Menag, relevan untuk membangun kesadaran bahwa ruang publik pun harus dijaga kesuciannya melalui etika dan tanggung jawab moral.
“Rumah kita harus menjadi masjid, kantor kita harus menjadi masjid, dan setiap ruang aktivitas kita harus menjadi tempat sujud kepada Allah SWT,” tegasnya.
Dalam konteks kehidupan modern, Menag menjelaskan bahwa nilai Isra Miraj menuntut umat Islam menghadirkan integritas, kejujuran, dan kesadaran spiritual dalam setiap aktivitas, termasuk bekerja, memimpin, dan berinteraksi di masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa salat adalah Miraj bagi orang beriman, bukan sekadar rangkaian gerakan fisik, melainkan peristiwa batin yang membentuk karakter dan perilaku sosial seseorang.
“Salat itu Miraj-nya orang beriman. Bukan hanya gerakan tubuh, tetapi kesadaran penuh saat bersujud kepada Allah,” jelas Menag.
Lebih jauh, Menag mengajak umat Islam memanfaatkan bulan Rajab dan Syaban sebagai fase persiapan spiritual dan penguatan keluarga menjelang Ramadan. Menurutnya, keluarga adalah ruang pertama pembentukan peradaban dan nilai keagamaan.
“Rajab dan Syaban adalah masa pemanasan untuk bertaubat, memperbaiki ibadah, dan memperkuat hubungan keluarga,” ujarnya.
Menutup tausyiah, Menag mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada keberagamaan yang bersifat formalistik. Ia mendorong terjadinya transformasi kualitas beragama, dari sekadar ritual menuju penghayatan nilai yang berdampak nyata dalam kehidupan sosial.