Bukan Bubur Biasa! Jenang Sumsum di Jawa Jadi 'Obat Lelah' Turun-Temurun
- (relineo/freepik)
Jateng – Dalam setiap sendok jenang sumsum, tersimpan lebih dari sekadar rasa manis dan gurih. Ada warisan filosofi hidup orang Jawa yang dalam, menjadi doa dan pengikat kebersamaan setelah setiap usaha besar.
Dalam budaya Jawa, seperti dikutip dari artikel badanbahasa.kemendikdasmen.go.id, Selasa (20/1/2026), jenang atau bubur bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol doa, harapan, persatuan, rasa syukur, dan semangat yang telah mengakar sejak lama. Itulah mengapa berbagai jenis jenang menjadi bagian tak terpisahkan dari upacara adat dan selamatan.
Dari belasan jenis jenang yang ada, Jenang Sumsum menonjol dengan makna dan fungsinya yang khusus. Terbuat dari tepung beras putih dan disiram kuah manis juruh (air gula merah), kehadirannya sarat simbol:
- Warna putih melambangkan kebersihan hati.
- Rasa manis juruh melambangkan harapan akan kesejahteraan.
- Teksturnya yang kental dan lengket adalah perlambang persatuan dan kesatuan hidup.
Jenang Sumsum sering dijuluki "Obat Lelah". Ia rutin dibuat dan dibagikan kepada keluarga serta tetangga setelah pesta pernikahan atau usainya suatu pekerjaan besar yang melelahkan. Tradisi ini memiliki makna mendalam:
Sebagai penyemangat dan pengembali kekuatan bagi semua yang telah mencurahkan tenaga dan pikiran.
Sebagai doa agar semua pihak yang terlibat—terutama pasangan pengantin—selalu diberi kesehatan, keberkahan, dan kekuatan dalam mengarungi kehidupan baru.
Dengan cara ini, Jenang Sumsum bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menyegarkan kembali semangat kebersamaan setelah mencapai sebuah tujuan.