Waspada! Curah Hujan Meningkat di Sebagian Wilayah Indonesia Jelang Akhir Januari 2026

Ilustrasi cuaca hujan
Sumber :
  • Ant

Jateng – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan meningkat signifikan menjelang akhir Januari 2026. Sejumlah wilayah strategis di Indonesia bagian selatan, mulai dari Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, masuk dalam zona kewaspadaan akibat kombinasi gangguan atmosfer berskala regional dan global.

img_title Puncak Kekeringan Diprediksi Agustus-September, BMKG Ungkap Strategi Jaga Waduk Tetap Aman

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa kondisi atmosfer saat ini menunjukkan sinyal kuat pertumbuhan awan hujan intensif yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, hingga gangguan transportasi darat, laut, dan udara.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari. Dinamika atmosfer menunjukkan peningkatan signifikan pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah selatan Indonesia,” ujar Faisal di Jakarta, Selasa (20/1/2026).

img_title Di Tengah Kemarau, BMKG Ingatkan Hujan Lebat Masih Mengancam di Beberapa Daerah

BMKG menilai potensi cuaca ekstrem kali ini tidak dipicu oleh satu faktor tunggal. Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa bibit siklon tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia menjadi salah satu pemicu utama. Sistem tersebut terpantau memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot (28 km/jam) dengan tekanan udara 1001 hPa.

“Pergerakan sistem 97S ke arah barat berpotensi memperkuat pertemuan dan belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara. Kondisi ini mendukung peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” jelas Andri.

img_title Saat Daerah Lain Mengering, Wilayah di Jateng Selatan Ini Masih Diguyur Hujan

Selain bibit siklon, BMKG juga mencatat penguatan Monsun Asia hingga 23 Januari 2026 yang disertai fenomena cold surge dari daratan Asia. Seruakan udara dingin ini meningkatkan kecepatan angin di Laut Cina Selatan dan mendorong pertumbuhan awan hujan masif di wilayah selatan khatulistiwa.

Situasi tersebut diperkuat oleh aktifnya fenomena global seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin, yang ditandai dengan nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif. Kombinasi ini menciptakan kondisi atmosfer yang sangat labil dan mendukung pembentukan awan Cumulonimbus, pemicu hujan lebat, kilat, dan angin kencang.

BMKG merilis peta waktu potensi cuaca ekstrem yang terjadi secara bergantian. Pada 21 Januari, wilayah rawan meliputi Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, hingga NTT.

Halaman Selanjutnya
img_title