Muncul Fenomena Global Tunda Menikah di Usia Produktif, Ini Kata Menag
Jateng – Meningkatnya tren penundaan perkawinan di berbagai negara mulai terasa dampaknya di Indonesia. Fenomena global di mana generasi muda memilih tidak menikah atau menunda perkawinan hingga usia tidak lagi produktif menjadi perhatian serius pemerintah.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, perkawinan tidak bisa dipandang semata sebagai pilihan personal, melainkan bagian dari strategi membangun ketahanan keluarga dan peradaban bangsa. Karena itu, ia meminta berbagai program layanan perkawinan diperkuat dan diperluas.
“Perkawinan itu bukan sekadar urusan pribadi, tapi juga bagian dari ikhtiar membangun peradaban,” kata Nasaruddin Umar di Jakarta, Jumat.
Menag menyebut sejumlah program Kementerian Agama, seperti Gerakan Sadar Pencatatan Nikah (Gas Nikah), Nikah Fest, bimbingan perkawinan (Bimwin), hingga Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), menjadi instrumen penting untuk merespons perubahan pola pikir generasi muda terkait perkawinan.
Menurutnya, negara harus hadir secara aktif melalui kebijakan dan program afirmatif agar generasi muda memiliki kesiapan sekaligus keberanian membangun keluarga di usia produktif.
“Perkawinan tetap punya posisi strategis dalam pembangunan sosial dan ketahanan keluarga. Negara tidak boleh absen,” ujarnya.
Data Kemenag mencatat, angka perkawinan pada 2025 mengalami kenaikan sekitar 0,3 persen yang dinilai sebagai dampak positif dari program Gas Nikah. Namun, Menag menilai capaian tersebut masih jauh dari kondisi ideal.
“Memang ada peningkatan, tapi ini juga menjadi alarm bahwa kita harus bekerja lebih keras,” katanya.
Nasaruddin menyoroti tren global yang terjadi di sejumlah negara maju, di mana minat menikah generasi muda terus menurun. Pola yang sama, kata dia, mulai terlihat di Indonesia.
“Sekarang muncul fenomena global, orang tidak akan kawin atau akan menunda perkawinannya sampai ke usia-usia yang justru tidak produktif,” tegasnya.
Ia menilai, perubahan sikap generasi muda terhadap perkawinan harus direspons dengan pendekatan yang lebih adaptif, dialogis, dan persuasif. Dalam konteks itu, Nikah Fest dianggap relevan sebagai ruang edukasi dan pendampingan yang lebih ramah anak muda.
“Kita tidak bisa hanya menasihati, tapi harus menghadirkan program yang menyentuh realitas mereka,” ujarnya.