Korban Meninggal Longsor Bandung Barat Capai 53 Orang, 35 Telah Diidentifikasi
- BNPB
Jateng – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, terus berlangsung meski dihadapkan pada tantangan cuaca hujan dan kondisi tanah yang labil.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan kerja keduanya ke lokasi terdampak, Rabu (28/1/2026). Ia mengapresiasi kinerja tim SAR gabungan yang dinilai menunjukkan progres signifikan sejak hari pertama operasi.
“Sejak hari pertama sampai hari kelima, operasi SAR sudah berhasil menemukan 53 korban yang dievakuasi menggunakan kantong jenazah. Dari jumlah tersebut, 35 korban telah berhasil diidentifikasi oleh tim DVI,” ujar Suharyanto di lokasi.
Selain fokus pada pencarian korban, BNPB juga memastikan hak keluarga korban terpenuhi. Suharyanto menyebut ahli waris korban yang telah teridentifikasi sudah menerima santunan dari Kementerian Sosial sebagai bentuk kehadiran negara bagi keluarga terdampak.
Untuk mendukung kelancaran operasi SAR, BNPB turut menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC). Langkah ini diambil guna menekan intensitas hujan yang berpotensi menghambat pencarian dan membahayakan keselamatan personel di lapangan.
“Cuaca hujan masih terus terjadi, tetapi kita melakukan operasi modifikasi cuaca. Alhamdulillah bisa membantu meskipun tidak sepenuhnya menghentikan hujan,” katanya.
Suharyanto menjelaskan, saat cuaca membaik, tim SAR langsung kembali melakukan pencarian dengan dukungan alat berat serta anjing pelacak. Ia menegaskan masa tanggap darurat ditargetkan selesai dalam dua pekan dan tidak akan diperpanjang.
“Kita harapkan dalam dua minggu ini situasi sudah lebih terkendali dan proses pemulihan bisa segera berjalan,” ucapnya.
Dalam tahap pemulihan, BNPB bersama pemerintah daerah telah mencatat sedikitnya 48 rumah warga dalam kondisi rusak berat hingga hancur akibat longsor. Selain itu, BNPB menilai perlu dilakukan kajian lanjutan terhadap rumah-rumah lain yang berpotensi terdampak dan harus direlokasi.
“Badan Geologi Kementerian ESDM sedang mendata, selain 48 rumah tersebut, apakah masih ada rumah masyarakat yang harus direlokasi karena ancaman longsor,” ujar Suharyanto.
BNPB pun meminta pemerintah daerah segera menyiapkan lahan untuk relokasi warga terdampak. Sambil menunggu proses tersebut, BNPB akan menyalurkan dana tunggu hunian kepada keluarga yang rumahnya rusak berat atau hilang dan saat ini mengungsi di rumah kerabat.