Sekolah Rakyat di Sukoharjo Siap Dibuka, Tampung 1.080 Siswa

Sekolah Rakyat di Sukoharjo Siap Dibuka.
Sumber :
  • Istimewa

Jateng - Sekolah Rakyat yang sudah dibangun secara pemanen di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah siap menerima peserta didik untuk tahun ajaran 2026/2027.

img_title Wamensos: Sekolah Rakyat Harus Jadi Jalan Keluar dari Kemiskinan

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI, Muhaimin Iskandar, di Sekolah Rakyat Sukoharjo.

Dia mengatakan, dari sejumlah sekolah rakyat permanen di Jawa Tengah, saat ini yang paling siap adalah di Sukoharjo. Sedangkan beberapa tempat yang lain masih dalam proses pembangunan.

img_title Dana BOS Kurang Rp61 Miliar, Menag Mengadu ke Prabowo Minta Tambah Anggaran

Sekda menargetkan, pada 14 Juli 2026 mendatang, operasional sekolah sudah harus mulai berjalan.

Mengingat waktu yang semakin mepet, Sumarno menegaskan, proses penerimaan dan persiapan sekolah harus segera diselesaikan.

img_title Setya Arinugroho Desak Transparansi Data DTSEN dan Perketat Validasi Penerima KIP Kuliah

“Posisi memang tahun ajaran sudah harus mulai, sehingga kita harus segera berproses untuk menerima siswanya,” pungkas Sumarno.

Hingga saat ini, tercatat ada 16 sekolah rakyat di Jawa Tengah, baik rintisan maupun permanen. Harapannya, sekolah rintisan yang ada juga berproses untuk menjadi permanen.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar memastikan, sekolah rakyat permanen di Sukoharjo akan mulai beroperasi pada tahun ini. Dia berpesan agar bangunan yang sudah didirikan dirawat dengan baik.

“Perawatannya harus betul-betul disinergikan atau dikolaborasikan antara Kemensos sama pemerintah daerah. Karena ini tanahnya memang milik tanah pemerintah daerah,” ujar dia.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono menambahkan, kurikulum Sekolah Rakyat akan menerapkan pendekatan multi entry dan multi exit, yang dikerjasamakan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kurikulum tersebut dinilai fleksibel untuk membantu mengakomodasi berbagai latar belakang dan kemampuan siswa.

“Jadi nanti kalau ada anak SD yang menyusul mau masuk ke sekolah, tidak ada masalah,” ujarnya.–