Transformasi Era Baru, BWI Dorong Integrasi Pengelolaan Wakaf Nasional dan Sertifikasi Nazir
- Istimewa
Jateng – Badan Wakaf Indonesia (BWI) resmi meluncurkan arah baru kebijakan perwakafan nasional dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 bertajuk "Wakaf Berdampak dan Berkelanjutan", Rabu-Kamis, (15-16/07/2026).
Melalui pertemuan strategis yang diikuti oleh 536 pengurus dari tingkat Pusat hingga Kabupaten/Kota ini, BWI menekankan urgensi integrasi agenda nasional dan modernisasi Nazir guna menutup celah lebar antara potensi besar wakaf dengan aktualisasi ekonomi yang ada.
Ketua Badan Pelaksana BWI, KH. Kamaruddin Amin mengungkapkan kegelisahannya atas pengelolaan wakaf di Indonesia yang selama ini masih terjebak pada instrumen konvensional. Ia menegaskan bahwa wakaf harus bertransformasi menjadi pilar ekonomi produktif yang inovatif.
"Kita menghadapi gap yang sangat besar antara potensi dan aktualisasi. Dinamika perwakafan nasional harus segera beradaptasi dengan tantangan sosial-ekonomi. Ke depan, diversifikasi instrumen wakaf ke sektor bisnis produktif adalah keharusan. Wakaf tidak boleh lagi hanya dipandang secara statis, tapi harus dikelola secara profesional untuk kesejahteraan anak bangsa," tegas Prof. Kamaruddin.
Ketua BWI juga menyoroti keterbatasan otoritas lembaga yang ada saat ini dan mendorong percepatan revisi Undang-Undang Wakaf tahun depan. Selain itu, Ia juga menginstruksikan langkah afirmatif berupa sertifikasi massal bagi Nazir di seluruh Indonesia.
"Nazir adalah aktor sentral. Tanpa peningkatan kapasitas dan sertifikasi kompetensi, kualitas perwakafan kita tidak akan beranjak naik," tambahnya.
Urgensi Integrasi Agenda Nasional 'Era Baru' BWI
Menyambung arahan tersebut, Sekretaris BWI, H. Anas Nasihin, menekankan bahwa keberhasilan transformasi ini bergantung pada integrasi agenda kerja antara pusat dan daerah yang selama ini masih terfragmentasi (terpecah-pecah). Rakernas ini disebutnya sebagai jembatan untuk menyatukan visi seluruh divisi di daerah melalui penguatan konsolidasi nasional.
"Ini adalah era baru bagi BWI. Kita harus mensyukuri kemajuan IT bukan sekadar sebagai alat komunikasi, tapi sebagai instrumen untuk menyambungkan semua agenda nasional yang selama ini terpisah. Tidak ada lagi sekat jarak atau keterbatasan kuota fisik bagi pengurus daerah untuk berkontribusi," ujar Anas Nasihin.
Anas menggarisbawahi bahwa keterlibatan aktif seluruh lini kepengurusan adalah kunci.\