Jelang Muktamar PBNU, Guru Besar UI Usulkan Ketua Umum Diseleksi AHWA
- Istimewa
Jateng – Guru Besar Universitas Indonesia (UI) sekaligus mantan Ketua PBNU, Prof. Hanief Saha Ghafur, mengusulkan penguatan peran Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam mekanisme pemilihan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.
Menurut Prof. Hanief, Ahwa tidak semestinya hanya berperan dalam memilih Rais Aam, tetapi juga perlu diperkuat untuk menyeleksi calon Ketua Umum PBNU. Langkah tersebut dinilai penting agar kepemimpinan NU benar-benar lahir dari proses seleksi yang didasarkan pada kapasitas, kompetensi, integritas, dan kebutuhan organisasi.
"Sistem yang dibangun bukan sekadar election, tetapi selection. Artinya, pemimpin dipilih berdasarkan kualifikasi dan kemampuan, bukan semata-mata melalui kontestasi politik," ujar Prof. Hanief dalam acara Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU yang mengusung tema Mencari Format Ideal Kepemimpinan NU di Kafe Trisnoku, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, keterpilihan harus berdasarkan kualifikasi, bukan berdasarkan election. Sebab, election itu liberal dan sekular. Tapi, orang sekular dan liberal di NU itu tidak merasa bahwa pilihannya itu adalah sekular dan liberal.
Untuk itulah, peran Ahwa harus diperkuatkan. Ia menilai Ahwa sebagai hasil ijtihad kelembagaan perlu diperkuat agar mampu menghasilkan kepemimpinan yang lebih ideal sesuai dengan karakter dan tradisi NU.
Prof. Hanief menjelaskan bahwa Ahwa merupakan mahalul ijtihad, yakni ikhtiar organisasi untuk terus menyempurnakan sistem pemilihan agar semakin sesuai dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Oleh sebab itu, menurutnya, ruang lingkup Ahwa sudah saatnya diperluas.
"Ahwa tidak hanya memilih Rais Aam, tetapi juga menyeleksi Ketua Umum PBNU sehingga keduanya benar-benar memiliki kecocokan dalam menjalankan roda organisasi," katanya.
Menurutnya, harmonisasi antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU menjadi kunci menjaga soliditas organisasi. Prof. Hanief mengusulkan agar Ahwa melakukan proses seleksi terhadap calon-calon terbaik, kemudian menyerahkannya kepada muktamirin.
Dengan mekanisme tersebut, hak muktamirin tetap terjaga, namun pilihan yang tersedia telah melalui proses seleksi yang objektif dan mempertimbangkan keserasian kepemimpinan.