Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah: Investasi Terbaik Bangsa Adalah Melindungi Anak Hari Ini
- Istimewa
Jateng – Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang diperingati setiap 23 Juli menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam memastikan setiap anak Indonesia tumbuh di lingkungan yang aman, nyaman, dan terbebas dari segala bentuk kekerasan. Momentum tersebut juga sejalan dengan implementasi Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak (Gernas RANA) yang diinisiasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) sebagai gerakan kolaboratif untuk menciptakan ruang aman bagi anak di keluarga, sekolah, masyarakat, hingga ruang digital.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah Setya Ari Nugroho menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
"Investasi terbaik bangsa bukan hanya membangun infrastruktur atau meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, bahagia, dan terlindungi. Anak-anak hari ini adalah pemimpin Indonesia di masa depan," ujar Setya Ari Nugroho.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi anak saat ini semakin kompleks. Selain kekerasan fisik, anak juga rentan mengalami kekerasan verbal, perundungan (bullying), eksploitasi, hingga kekerasan berbasis teknologi melalui media sosial. Kondisi tersebut membutuhkan kepedulian dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, tidak hanya pemerintah.
Wakil Ketua DPRD Jateng Setya Arinugraho
- Istimewa
Ia menilai implementasi Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak (Gernas RANA) perlu menjadi gerakan bersama yang diwujudkan melalui langkah nyata di tingkat keluarga, satuan pendidikan, dan lingkungan masyarakat.
"Rumah harus menjadi tempat pertama yang memberikan rasa aman bagi anak. Sekolah harus menjadi ruang belajar yang menyenangkan, bebas dari kekerasan, diskriminasi, maupun perundungan. Sementara masyarakat perlu menjadi lingkungan yang melindungi, bukan justru membiarkan ketika melihat anak menjadi korban kekerasan," katanya.
Setya Ari Nugroho menegaskan bahwa praktik bullying tidak boleh lagi dianggap sebagai kenakalan biasa. Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa perundungan dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang, menurunkan kepercayaan diri anak, mengganggu prestasi belajar, bahkan memengaruhi kesehatan mental hingga dewasa.
Karena itu, ia mengajak seluruh satuan pendidikan di Jawa Tengah memperkuat budaya sekolah yang ramah anak melalui pendidikan karakter, pembelajaran tanpa kekerasan, serta sistem pencegahan dan penanganan perundungan yang melibatkan guru, orang tua, dan peserta didik.