Ketua DPD Golkar Jateng: Penelitian CELIOS Tendensius

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh
Sumber :
  • Istimewa

Jateng – Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Tengah, Mohammad Saleh menilai penelitian yang dilakukan Centre of Economic and Law Studies (CELIOS) bertajuk “Rapor Dua Tahun Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran” yang salah satu poinnya menghakimi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai menteri berkinerja terburuk merupakan kajian yang tendensius karena memasukan unsur “Kabinet Bayangan” dalam kajiannya.

“Saya tidak mau menanggapi metoda dan soal teknisnya. Yang saya kecewa dengan penelitian ini adalah memasukan unsur Kabinet Bayangan dalam prosesnya, sehingga patut diduga ada framing dan tendensi di dalamnya,” kata Mohammad Saleh, doktor ilmu hukum dan kandidat doctor energi di Universitas Diponegoro, saat diminta pendapatnya terkait publikasi penelitian CELIOS.

Menurut dia, tidak lazim dalam format penelitian melibatkan "Kabinet Bayangan", kelompok politisi oposisi yang kehadirannya memang untuk "membayangi" atau menandingi portofolio kementerian tertentu yang ada di pemerintahan resmi.

Karenanya, pelibatan “Kabinet Bayangan” menjadi rawan membawa bias politik, cenderung subjektif untuk mendiskreditkan kebijakan eksekutif, ketimbang murni penilaian akademis yang steril dari kepentingan kelompok.

Dalam konteks system politik demokrasi yang diterapkan di Indonesia, Saleh menganggap kemunculan kabinet bayangan di Indonesia pada akhir Juli 2026 juag suatu keanehan karena Indonesia memakai Kabinet Presidensil.

Pola cabinet bayangan atau shadow cabinet itu bagian dari dari sistem parlementer seperti di Inggris atau Australia. “Lha ini system presidensil, kok ada kabinet bayangan. Ada-ada saja,” tutur Saleh setengah berkelakar.

 

Adapun dalam konteks penilaian terhadap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang dimasukan dalam kelompok Menteri berkinerja buruk, M Saleh yang juga Wakil Ketua DPRD Jateng menduga kuat itu sekedar justifikasi politik.

Dia menguraikan, kinerja Bahlil yang juga Ketua Umum Partai Golkar paten & oke. Program kedaulatan energi dengan Mandatori B50 bukan saja mengemat devisa namun menuju penghentian impor solar.

Bahlil juga konsisten mempercepat peta jalan hilirisasi mineral dan batubara (minerba), sehingga nilai ekspor nikel Indonesia dari yang awalnya hanya sekitar US$3,3 miliar (2017–2018) meroket melampaui US$40 miliar.