Mengejutkan! Wisata Religi Jadi Primadona Batang, Kunjungan Tembus 500 Ribu
- (visitjawatengah)
Jateng – Wisata religi dan sejarah kini menjelma menjadi magnet utama pariwisata Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng). Di tengah masih populernya destinasi alam, minat wisatawan justru semakin kuat pada lokasi-lokasi yang menawarkan pengalaman spiritual sekaligus nilai sejarah.
Pemerintah Kabupaten Batang mencatat, objek wisata religi dan sejarah menjadi pilihan favorit pengunjung karena mampu menghadirkan keindahan alam yang berpadu dengan makna spiritual dan historis yang mendalam.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Batang Ulul Azmi di Batang, Selasa, menyebutkan bahwa situs religi masih mendominasi kunjungan wisata sepanjang 2025. Meski wisata alam tetap ramai, destinasi religi dan sejarah tetap tak tergeser.
"Ya situs Syekh Maulana Maghribi Wonobodro masih menduduki peringkat pertama dengan jumlah 533.046 pengunjung atau menyumbang lebih dari sepertiga daripada total kunjungan tahun ini," katanya seperti dikutip dari Antara News, Rabu (24/12/2025).
Menurut Ulul Azmi, tren tersebut menunjukkan adanya perubahan preferensi wisatawan. Pengunjung kini tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga ketenangan batin serta pengalaman bersejarah yang bernilai.
Ia mengungkapkan, Pemkab Batang memiliki lima destinasi unggulan yang menyumbang angka kunjungan tertinggi sepanjang 2025. Selain Situs Syekh Maulana Maghribi Wonobodro dengan 533.046 pengunjung hingga awal Desember, destinasi lain yang ramai dikunjungi adalah Kolam Renang Rejoasari Timur (279.790 orang), Pantai Sigandu (232.394 orang), Sikembang Park (185.782 orang), serta Agrowisata Kebun Teh Pagilaran (94.707 orang).
Lonjakan kunjungan tersebut berdampak langsung pada pendapatan daerah. Sektor pariwisata Batang berhasil mencatat realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2025 sebesar Rp2,35 miliar atau sekitar 60 persen dari target Rp3,89 miliar.
"Meski target dua juta kunjungan belum tercapai, capaian PAD ini dinilai sebagai modal penting. Fokus ke depan adalah menjaga kualitas layanan, infrastruktur, dan manajemen destinasi," paparnya lagi.
Ulul Azmi menambahkan, tantangan berikutnya adalah memaksimalkan potensi libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, meskipun kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung.
"Kami berharap ada peningkatan dan tetap realistis karena Desember 2025 adalah puncak musim hujan. Yang utama, momentum positif 2025 ini harus dijaga melalui inovasi dan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat," imbuhnya.