Perkuat Ekonomi Sirkular melalui Pengelolaan Sampah Plastik

Wakil Ketua DPRD Jateng Sarif Abdillah
Sumber :
  • Istimewa

Jateng – Lonjakan harga plastik akibat dinamika global dapat dijadikan sebagai momentum penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah plastik.

img_title Waspada! Suhu Panas di Jateng Diprediksi Capai Puncaknya Oktober Ini

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, hal yang bisa dilakukan adalah pengembangan dan optimaliSasi bank sampah di tingkat masyarakat. 

“Bank sampah tidak lagi cukup diposisikan sebagai program lingkungan semata, tetapi harus dibaca sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi bahan baku sekunder,” ungkapnya.

img_title Pengawasan Produk Pangan Harus Diperkuat Sejak Tahap Perizinan

Kakung, sapaan akrab Sarif menambahkan, penguatan sistem daur ulang dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sampah. 

“Jika plastik bekas dapat kembali masuk ke rantai produksi secara lebih besar, maka ketergantungan terhadap bahan baku primer dapat ditekan," sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

img_title Standardisasi Jadi Kunci UMKM Jawa Tengah Tembus Pasar Global

Kondisi ini, jelas Kakung, dapat menjadi perluasan insentif bagi bahan pengganti plastik yang dapat diproduksi dalam negeri.

Wakil Ketua DPRD Jateng, Sarif Abdillah

Photo :
  • Istimewa

“Harus diakui plastik sudah menjadi kebutuhan premier masyarakat sehari-harinya. Dan saat harga plastik melonjak, sektor domestik pun menjadi ikut terdampak besar,” jelasnya.

Atas dasar itu, Kakung mengajak masyarakat menyikapi lonjakan harga plastik ini sebagai momentum perubahan pola konsumsi, termasuk dengan membiasakan membawa kantong belanja saat beraktivitas. 

"Kenaikan harga plastik berdampak pada sektor perdagangan, pelaku usaha kecil, hingga masyarakat sebagai konsumen," kata legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.

Kakung juga mendorong dukungan kebijakan dan sistem dari pemerintah agar transisi menuju penggunaan kemasan ramah lingkungan dapat berjalan optimal. 

“Masyarakat tidak cukup hanya diminta beradaptasi, tetapi perlu kepastian bahwa transformasi menuju kemasan ramah lingkungan memiliki dukungan regulasi, kepastian pasar, dan insentif investasi," tandasnya.