FPPP Jateng Usulkan Dolanan Tradisional jadi Pelajaran Wajib
- Istimewa
Jateng – Kemajuan teknologi membuat anak-anak jaman now lebih demen bermain game online dibanding permainan tradisional. Anak-anak bahkan balita pun tak luput dari gadget. Mereka lebih senang berlama-lama bermain handphone dibandingkan keluar rumah.
Hal ini membuat Ja'far Shodiq, Anggota Komisi E DPRD Jateng prihatin. Ia mengusulkan agar pemerintah memasukan dolanan tradisional ke dalam kurikulum sekolah. Kalau perlu menjadi kurikulum wajib. “Hal ini penting, agar keberadaan dolanan tradisional tidak punah,” katanya.
Wakil Ketua Fraksi PPP DPRD Jateng mengakui banyak anak-anak sama sekali tidak mengerti dan mengenal permainan tradisional. Banyak yang tidak tahu mainan cublak-cublek suweng, gobak sodor, bola kasti, lempar batu, kelereng, toklean, engklek, egrang dan lainnya. Padahal semua itu bentuk tradisi serta kekayaan budaya kita.
“Kondisi ini sangat membahayakan karakter generasi kita. Jangan sampai generasi kedepan justru tidak mengenalnya dan secara otomatis kekayaan tradisi kita akan musnah,” ungkapnya.
Ja'far Shodiq mengusulkan agar pemerintah memasukan dolanan tradisional menjadi mata Pelajaran. Sekolah baik negeri maupun swasta harus diwajibkan untuk nguri-nguri dolanan tradisional. Selain itu, harus ada kesadaran bersama terutama orangtua untuk kembali menghidupkan permainan tradisional.
Salah satu caranya dengan kembali memperkenalkan atau membelikan mainan-mainannya tradisional. Batasi anak bermain handphone dan selalu kontrol agar tidak kecanduan.
“Dengan begitu kedepannya akan banyak talenta permainan tradisional. Kalau perlu kita bisa mendorong permainan tradisional dipertandingkan di tingkat PON, Asean Game bahkan sampai Olimpiade,” tambahnya.