Respons Bijak Gus Baha Dibalik Kontroversi Gus Miftah, Singgung Hormati Tatanan Sosial

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha
Sumber :
  • Youtube

Jateng –  Kontroversi Gus Miftah yang viral setelah mengolok-olok seorang pedagang es teh di sebuah acara pengajian direspons banyak pihak. Para ulama dan tokoh turut memberikan komentarnya atas olok-olokan Gus Miftah kepada penjual es.

Heboh Tawuran Remaja hingga Saling Bacok di Jalan Peres Semarang, Polisi Buru Pelaku

Seperti Gus Baha, seorang ulama kharismatik dari Rembang, Jawa Tengah, ikut ditanyakan komentarnya oleh para jamaah pengajian soal kontroversi Gus Miftah. 

Alih-alih memperkeruh suasana, ia justru memberikan jawaban yang penuh makna, dipenuhi candaan ringan, dan tetap mengedepankan pesan moral. Gus Baha menanggapi situasi ini dengan cara yang adem dan bijak. 

Viral Gajah di Waduk Gajah Mungkur Dirantai, Pemkab Wonogiri: Lagi Birahi!

Saat menghadiri sebuah acara kajian di Universitas Islam Indonesia, Gus Baha mendapat pertanyaan dari seorang jamaah terkait kasus yang sedang viral tersebut. 

Tidak hanya itu, sang jemaah juga ingin mengetahui asal-usul penggunaan istilah “Gus” sebagai gelar di Jawa.

Frustasi, Warga Tumpahkan 2 Truk Sampah di Kantor Bupati Pemalang

"Hari-hari ini sedang ramai berita tentang seorang Gus yang mungkin berceramah dengan bahasa yang kurang baik. Mungkin maksudnya guyon tapi malah melukai hati orang lain. Sebenarnya sejarah dari panggilan Gus ini seperti apa?" tanya seorang jemaah yang dikutip dari YouTube Universitas Islam Indonesia, Jumat, 6 Desember 2024. 

Respons Gus Baha

Mendengar pertanyaan itu, Gus Baha menanggapinya dengan senyum dan humor khasnya karena menganggap pertanyaan tersebut termasuk provokatif. Ia terlebih dahulu menyelipkan candaan yang sukses mengundang tawa hadirin. 

"Ini (jawab pertanyaan) yang provokatif dulu itu ya, semoga diampuni oleh Allah Ta'ala," ujarnya sambil bercanda.

Ia kemudian melanjutkan dengan cerita bijak dari kisah Nabi Musa dalam kitab Ihya Ulumuddin. Nabi Musa berdoa agar Allah mengabulkan permintaannya, tetapi tidak dikabulkan karena ada seseorang di komunitasnya yang gemar memprovokasi. 

Allah SWT, lanjut Gus Baha, tidak ingin mengungkap siapa orang itu, karena mengungkapnya pun akan menjadi tindakan provokatif.

"Suatu saat, Nabi Musa itu salat istisqa dan berbagai doa apa saja ternyata enggak mustajab. Kata Allah 'di komunitas Anda itu ada orang yang suka mengadu, maka kamu doa apa saja tidak akan saya jabah' terus nabi Musa bilang 'ya gampang, tunjukkan lalu nanti akan saya usir'. Tapi jawabannya Allah itu lucu 'saya tidak suka atau mengharamkan untuk provokatif, kalau saya tunjuk nanti saya juga provokatif'," jelasnya.

Dengan cerita ini, ia menekankan pentingnya menjaga situasi agar tidak memancing masalah baru di masyarakat. Tak lupa, Gus Baha juga menyisipkan candaan yang mencairkan suasana.

"Intinya Allah itu suka mengabaikan pertanyaan provokatif, terus pertanyaan seperti itu mesti juga diabaikan oleh Allah," ungkapnya.

"Karena itu pasti (jawabannya membuat) repot, jelas repot. Memang kalau saya jelas Gus yang asli kalau itu, jelas," katanya dengan bercanda disambut tawa jemaah," tambahnya.

Melalui tanggapannya, Gus Baha memaksudkan bahwa dalam situasi yang panas sekalipun, penting untuk menanggapi dengan kepala dingin.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga keharmonisan dan menghindari provokasi lebih penting daripada sekadar memperpanjang perdebatan.

Hormati Tatanan Sosial

Dalam bahasan berikutnya, Gus Baha mengingatkan pentingnya menghormati hukum sosial yang ada di di masyarakat. Bahkan Nabi Muhammad SAW sekalipun kekasih Allah dan memiliki mukjizat terkena aturan sosial. 

"Meskipun beliau punya mukjizat kaya apa, ketemu orang harus santun, ketemu anak kecil harus sayang, ketemu orang tua harus hormat. Andaikan Nabi bisa terbang ke langit sekalipun, miraj, tapi ketemu anak kecil nampar, orang sepuh meludahi, tetap tidak diterima publik," terang Gus Baha.

"Betapa pentingnya tata krama sosial, kata Ibnu Khaldun, ini Rasulullah orang yang dibackup sekian alam raya tapi sekali melanggar tata krama sosial, tetap orang akan bubar," imbuhnya

Apalagi cuma sekedar gus atau kiai, kemudian menghina dan mencaci-maki orang, pasti publik akan dijauhi publik, sekalipun dia dianggap 'keramat'.

"Makanya kata Ibnu Khaldun: Ini Rasulullah orang yan bisa mengendalikan alam raya karena kekasih Allah itu saja kena aturan (sosial). Kalau engkau salah tatanan sosial wahai Muhammad, orang akan bubar," ungkapnya

Diketahui, Gus Miftah menjadi sorotan publik setelah video yang memperlihatkan Gus Miftah sedang mengolok-olok seorang pedagang es teh di sebuah acara pengajian yang dia hadiri. 

Mirisnya, ulama yang bernama asli Miftah Maulana Habiburrahman itu sampai mengeluarkan kata makian yang disahut tawaan para hadirin. 

Atas viralnya video itu, Gus Miftah mendatangi Sunhaji si penjual es di kediamannya di Grabag, Magelang, dan meminta maaf atas ucapannya yang viral tersebut. 

Gus Miftah juga mengaku telah ditegur Presiden Prabowo Subianto melalui Sekretaris Kabinet Mayor Teddy Indra Wijaya. Ia meminta maaf atas kejadian tersebut dan berharap hal ini menjadi pembelajaran.