Di Kampung Ini Sahur Diiringi Gamelan, Kreatif Banget!

Ilustrasi sahur, buka puasa, puasa
Sumber :
  • (Freepik)

Jateng – Di era digital yang serba instan, tradisi membangunkan sahur justru bertransformasi menjadi lebih kreatif dan kaya makna. Jika biasanya kita mendengar suara kentongan atau teriakan ‘sahur’ yang riuh, sekelompok pemuda di sebuah desa di Sragen, Jawa Tengah (Jateng), membawa tradisi ini ke level yang berbeda. Mereka tak hanya sekadar membangunkan, tetapi juga menggelar pertunjukan seni keliling kampung setiap dini hari.

img_title Komisi E DPRD Jateng Usulkan Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal demi Jamin Kesejahteraan Warga

Adalah Sahur Gedruk Ngarum, sebuah inisiatif unik yang membuktikan bahwa menjaga budaya bisa dilakukan dengan cara yang meriah dan penuh semangat kebersamaan.

Bukan alarm atau suara panci yang membangunkan warga Dukuh Ngarum, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, saat sahur. Setiap pukul 02.00 dini hari selama bulan Ramadan, puluhan pemuda setempat kompak berkumpul di masjid. Mereka tidak hanya bersiap untuk sahur, tetapi juga merangkai peralatan musik tradisional seperti kendang, gong, bonang, hingga bass drum yang ditata rapi di atas gerobak kecil.

img_title Setya Arinugroho Desak Transparansi Data DTSEN dan Perketat Validasi Penerima KIP Kuliah

Merangkum sejumlah sumber, Selasa (3/3/2026), diketahui bahwa iringan irama gamelan yang berpadu dengan tabuhan drum kemudian mengalun lembut namun menggelegar di seluruh penjuru kampung. Suara khas Jawa ini mengiringi ajakan sahur yang dilantunkan dengan nada penyemangat khas suporter sepak bola, namun liriknya telah dimodifikasi menjadi ajakan untuk bangun dan menyantap makan sahur.

Tradisi yang dinamakan Sahur Gedruk Ngarum ini sudah berjalan sejak tahun-tahun sebelum pandemi dan menjelma menjadi identitas Ramadan yang dinanti-nantikan.

img_title Isu Penutupan Prodi Jadi Alarm Keras Ketidaksinkronan Kampus dan Pasar Kerja

Setiap malam, rombongan pemuda ini menempuh rute sepanjang 1,5 kilometer, menyusuri delapan RT di dukuh tersebut. Dengan jumlah peserta antara 15 hingga 20 orang, suasana sahur pun berubah menjadi pawai budaya yang meriah dan seru. Bagi para pemuda, kegiatan ini adalah bentuk aktualisasi diri yang positif, jauh lebih bermanfaat daripada sekadar berkumpul tanpa arah atau bahkan terlibat kegiatan negatif seperti balap liar.

Para tetua kampung pun menyambut hangat inisiatif ini. Keberadaan 'Sahur Gedruk' dianggap sangat efektif membangunkan warga, terutama generasi muda yang kerap begadang hingga larut malam. Lebih dari sekadar pengingat waktu sahur, tradisi ini adalah napas pelestarian budaya di Desa Ngarum yang memang dikenal sebagai Kampung Seniman, tempat lahirnya para maestro seni tradisional. Dengan cara ini, semangat gotong royong dan kecintaan pada kesenian Jawa terus terpelihara dari generasi ke generasi.