Saat Daerah Lain Mengering, Wilayah di Jateng Selatan Ini Masih Diguyur Hujan

Ilustrasi Kemarau
Sumber :
  • VIVAnews/Fajar Sodiq

Jateng – Meski sejumlah wilayah di Jawa Tengah bagian selatan mulai menunjukkan karakteristik musim kemarau, hujan ternyata belum sepenuhnya meninggalkan kawasan tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa hujan lokal masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama akibat faktor cuaca setempat.

img_title BMKG Keluarkan Peringatan Cuaca Hari Ini, Hujan Diprediksi Guyur Sejumlah Kota Besar Ini

Fenomena ini terlihat di sejumlah daerah seperti Banyumas dan Cilacap yang dalam beberapa hari terakhir masih mencatat hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau masih berlangsung.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan bahwa hujan yang terjadi pada awal Juni dipicu oleh pertumbuhan awan konvektif di wilayah setempat.

img_title Cuaca Hari Ini, Mayoritas Kota Besar di Indonesia Diprediksi Cerah Seharian

“Berdasarkan pantauan di beberapa pos pengamatan curah hujan, masih terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada 4 Juni 2026. Curah hujan yang tercatat di beberapa pos berkisar antara 16 hingga 20 milimeter per hari,” kata Teguh di Cilacap, Jumat 5 Juni 2026, yang dikutip dari Antara.

Menurutnya, kemunculan awan Cumulonimbus (Cb) menjadi faktor utama yang memicu hujan lokal, meskipun secara umum kondisi atmosfer di wilayah Jawa Tengah selatan mulai bergerak menuju pola musim kemarau.

img_title Puncak Kekeringan Diprediksi Agustus-September, BMKG Ungkap Strategi Jaga Waduk Tetap Aman

Tanda-Tanda Kemarau Mulai Muncul

BMKG mencatat sejumlah indikator musim kemarau sudah mulai dirasakan masyarakat di Cilacap, Banyumas, dan wilayah sekitarnya. Salah satunya adalah suhu udara pada pagi hari yang terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.

Selain itu, intensitas panas matahari pada siang hari juga semakin terasa karena berkurangnya tutupan awan. Kondisi tersebut membuat radiasi matahari lebih mudah mencapai permukaan bumi.

“Dari pantauan arah angin juga sudah mulai dominan dari arah timuran yang merupakan salah satu karakteristik musim kemarau,” ujar Teguh.

Meski demikian, data curah hujan menunjukkan tidak semua wilayah telah sepenuhnya memasuki musim kemarau.

Sejumlah Wilayah Masih Tergolong Musim Hujan

Berdasarkan rekapitulasi curah hujan selama Mei 2026, beberapa wilayah di Kabupaten Cilacap masih mencatat angka curah hujan di atas 150 milimeter per bulan. Daerah tersebut antara lain Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu, serta sebagian wilayah Kota Cilacap.

Halaman Selanjutnya
img_title