Bukan Lailatul Qadr, Ini yang Menurut Menag Harus Dikejar di Bulan Ramadhan

Menag Nasaruddin Umar
Sumber :
  • Kemenag.go.id

Jateng – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ibadah Ramadhan seharusnya menjadi momentum transformasi spiritual dan sosial, bukan hanya rutinitas ritual tahunan. Ia mengingatkan, puasa tanpa kepedulian terhadap sesama berisiko kehilangan makna terdalamnya.

img_title Dana BOS Kurang Rp61 Miliar, Menag Mengadu ke Prabowo Minta Tambah Anggaran

Pesan tersebut disampaikan Menag saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Akbar di Masjid UIN Alauddin Kampus 2, Gowa, Sulawesi Selatan, Senin. Dalam kesempatan itu, ia menyebut peringatan Isra’ Mi’raj sebagai fase awal pembentukan kesadaran spiritual umat Islam menjelang Ramadhan.

“Menjelang Ramadhan, Allah memberikan prolog berupa Isra’ Mi’raj sebagai shock therapy agar kita siap secara batin, bukan hanya secara ritual,” ujar Nasaruddin Umar yang dikutip dari Antara.

img_title Menag Nazaruddin: 10 Muharam Momentum Bebaskan Anak Yatim dari Kesulitan

Menurut Menag, Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah keagamaan, melainkan pengingat bahwa ibadah memiliki dimensi vertikal dan horizontal yang tidak bisa dipisahkan. Ramadhan, kata dia, menjadi waktu terbaik untuk memulihkan kesucian hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Kritik Orientasi Ibadah yang Terlalu Simbolik

img_title Turun ke Jalan, Perempuan Bangsa Jateng Bagikan Ribuan Paket Takjil

Menag juga mengkritik kecenderungan sebagian umat yang terlalu fokus mengejar pahala simbolik, namun mengabaikan substansi ibadah itu sendiri. Ia menilai orientasi ibadah seharusnya diarahkan pada pencarian rida Allah melalui tindakan nyata.

"Kita jangan mengejar Lailatul Qadr. Mana lebih penting kita mencari Lailatul Qadr atau mencari yang menurunkan Lailatul Qadr? Lailatul Qadr itu makhluk, surga itu makhluk. Yang kita butuhkan adalah siapa yang menurunkan Lailatul Qadr, Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT)," katanya.

Dalam tausiyahnya, Menag mengutip pemikiran sufi Rabi’ah Adawiyah untuk menekankan pentingnya mahabbah atau cinta kepada Allah sebagai dasar ibadah. Menurutnya, cinta yang tulus kepada Tuhan akan melahirkan kasih sayang yang autentik kepada sesama manusia.

“Saya menyembah Tuhan karena I love you my God. Kalau mahabbah yang berbicara, surga dan neraka menjadi kecil. Yang besar adalah cinta kepada Allah,” ujar Menag.

Ia menambahkan, ibadah yang dilandasi cinta akan menjauhkan umat dari sikap mudah menghakimi, serta memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Perbedaan sebagai Rahmat, Bukan Sumber Konflik

Halaman Selanjutnya
img_title