Jurus Kepala BGN Sudaryono Agar MBG Tepat Sasaran: Integarasikan Data NIK

Kepala BGN Sudaryono
Sumber :
  • Istimewa

Jateng - Badan Gizi Nasional (BGN) mengubah strategi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memprioritaskan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah yang memiliki angka stunting tinggi dan sangat tinggi. Langkah ini diambil agar intervensi pemerintah lebih tepat sasaran dalam mengatasi persoalan kekurangan gizi di Indonesia.

img_title BGN Percepat Operasional 1.700 Dapur MBG di Daerah 3T, Papua hingga NTT Jadi Prioritas

Kepala BGN, Sudaryono, mengatakan pemerintah akan memanfaatkan peta sebaran stunting yang dimiliki Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebagai dasar penentuan lokasi pembangunan maupun aktivasi dapur MBG.

Menurutnya, daerah yang telah memiliki fasilitas SPPG akan segera dioptimalkan, sedangkan wilayah yang belum memiliki dapur MBG akan menjadi prioritas pembangunan berikutnya.

img_title Kepala BGN Sudaryono Copot 137 Kepala SPPG

"Nanti ada beberapa dapur MBG atau SPPG yang kita fokuskan di daerah dengan angka stunting tinggi dan sangat tinggi. Kalau sudah ada dapurnya segera kita aktivasi, kalau belum ada maka kita fokus membangunnya terlebih dahulu sambil terus memperbaiki layanan di daerah yang sudah berjalan," kata Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Strategi tersebut didasarkan pada data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih besarnya jumlah masyarakat yang mengalami kekurangan asupan gizi.

img_title Tak Lagi Tertutup, Orang Tua Segera Bisa Pantau Menu MBG Anak Secara Real Time

Sudaryono mengungkapkan, sekitar 40 persen masyarakat Indonesia yang berada pada kelompok ekonomi terbawah (kuintil 1 dan 2) masih berada di bawah standar kesehatan akibat kurangnya konsumsi kalori dan protein. Kondisi tersebut diperkirakan dialami oleh sekitar 116 juta penduduk, sehingga membutuhkan intervensi gizi secara berkelanjutan melalui Program MBG.

BGN juga mencatat terdapat 182 kabupaten/kota dengan kategori stunting sedang, 220 kabupaten/kota berkategori tinggi, serta 92 kabupaten/kota yang masuk kategori sangat tinggi.

Data tersebut, lanjut Sudaryono, menjadi acuan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan percepatan layanan pemenuhan gizi.

"Selain membenahi SPPG yang sudah berjalan, kami juga mempersiapkan intervensi langsung dengan pemberian gizi yang sesuai kebutuhan, khususnya di daerah-daerah yang angka stuntingnya tinggi dan sangat tinggi," ujarnya yang dikutip dari Antara.

Data NIK Jadi Kunci Penyaluran MBG Tepat Sasaran

Untuk memastikan bantuan benar-benar diterima kelompok yang membutuhkan, pemerintah mengintegrasikan data penerima manfaat berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Halaman Selanjutnya
img_title