Sisi Gelap Era Kerajaan Jawa, "Cinta Terlarang Praktik LGBT yang Tak Diungkap
- Istimewa
Jateng – LGBT bukan lahir dari budaya barat semata, sebaliknya dalam perspektif Islam mudahnya kita menyebut warisan kaum Nabi Luth. Praktik LGBT bahkan telah ditemukan pada era kerajaan Jawa, di Jogjakarta maupun di Solo.
Dalam buku "Perempuan-perempuan perkasa di Jawa Abad XVIII - XIX" karya Peter Carey dan Vincent Houben(2016) disebutkan situasi rancu di Keraton Jawa Tengah selatan, yang terjadi akibat dominasi perempuan ikut dalam Medan perang, membuat dampak laki-laki turun menari dalam panggung kesenian dengan menjadi teledek laki-laki, menarikan Bedoyo Semang.
Tarian sakral ini sebelum 1914 dipentaskan khusus laki-laki pra puber(Pigeaud 1938; dalam Carey 1992 dan 2016).
Kehadiran Perempuan dalam laskar Srikandi(pasukan perempuan khusus perang) di era Raden Mas Said(Mangkunegara I, bertahta 1757-1795) kedepannya dalam perjalanan kerajaan Jawa memberi andil dominasi perempuan.
Sisi maskulinitas itu baik memberi bantahan pada patriarki Jawa, akan tetapi memiliki konsekuensi setelahnya. "Keberanian perempuan" ini menjadi dorongan perempuan untuk menunjukkan sisi ke-aku dirinya.
Dikisahkan dalam buku yang sama(Carey:2016), di Keraton Surakarta pada masa pemerintahan PB V, mantan penerjemah resmi bahasa Jawa JW Winter melaporkan suatu skandal di Keputren(asrama wanita di keraton), "salah seorang selir Sunan kelima, mengambil peran laki-laki, dalam serangkaian hubungan Intim dengan istri muda Sunan yang merasa belum terpuaskan oleh sang suami".
Potret ini menggenapi kisah lain di akar rumput di Jogjakarta (Anderson Sutton 1984, dalam Carey 2016), Serat Centhini yang ditulis oleh Carik Sutrasno, mengisahkan Teledek laki-laki, yang mengambil peran menggantikan perempuan dalam menyanyi dan menari, diajak bermain cinta berganti-gantian sesudah acara pementasan selesai, oleh tuan rumah(kepala desa).
Potret kelam ini menjadi sejarah gelap Keperkasaan Perempuan yang mampu menentang Patriarki Jawa, akan tetapi disisi lain memberi cikal bakal fenomena sosial dewasa ini, tentang LGBT; "Perbotian" & sejenisnya di tempat kita saat ini.
(Enar Ratriany Assa SIP., MH, Pemerhati Sosial)