Setahun Perang di Gaza: Israel Harus Berhenti Membunuh!

Warga Palestina di Gaza
Sumber :
  • Anadolu/Antara News

Gaza – Bagi mereka yang berhasil selamat dari serangan Israel di Jalur Gaza, setahun terakhir sejak Oktober 2023, penuh dengan kengerian: anak-anak Palestina terbunuh, terluka, dan berlumuran darah.

img_title Daging Dam Jamaah Haji Indonesia Akan Didistribusikan ke Palestina, Arab Saudi Setuju

Untuk membantu dokter, perawat, paramedis, dan tenaga kesehatan lain di Gaza guna menangani korban pengeboman dan serangan darat Israel, puluhan tenaga medis asing datang ke wilayah tersebut, menyaksikan kehancuran serbuan Israel secara langsung.

Salah satu dokter itu adalah Dr. John Kahler, seorang dokter anak dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di zona krisis.

img_title Angka Mengerikan Terkuak dari Gelombang Protes Iran: Korban Tewas Tembus 5.002, 26.752 Orang Ditangkap

Sebelum tiba di Gaza, Kahler berpikir telah melihat kekejaman terburuk di dunia, tetapi penugasannya yang berulang kali ke Gaza bersama kelompok bantuan kemanusiaan MedGlobal menghancurkan keyakinan itu.

"Saya sudah berada di banyak tempat buruk, termasuk Haiti setelah gempa bumi, Yaman selama wabah kolera, Aleppo saat pengepungan, dan saya pikir saya cukup siap untuk Gaza. Ternyata, saya salah besar. Saya pikir saya sudah melihat yang terburuk, sampai saya pergi dan melihat langsung Gaza," kata Kahler kepada Anadolu seperti dikutip dari Antara News, Senin (/10/2024).

img_title Wamentan Sudaryono Sebut Balai Pertanian di Karawang Ini Bak Markas Satria Baja Hitam

Adegan 'Surealis'

Kahler, yang merupakan salah satu pendiri MedGlobal, pertama kali mengunjungi Gaza pada 2019 untuk membantu mengembangkan bangsal anak di Rumah Sakit Nasser di Kota Khan Younis, wilayah selatan Gaza.

Saat ia kembali pada Januari 2024, ia disambut pemandangan mimpi buruk: 1,2 juta pengungsi berdesakan di Rafah, sebuah kota kecil di perbatasan Mesir, tanpa akses air atau listrik.

"Saat malam, berkendara di kegelapan melewati anak-anak dan wanita yang mengisi setiap inci ruang terasa seperti adegan yang surealis. Itu seperti dalam film pasca-apokaliptik."

Saat Kahler kembali ke Gaza pada bulan Maret 2024, populasi Rafah telah meningkat menjadi 1,6 juta, dengan sekitar 56.000 orang per kilometer persegi. Dia mengatakan bahwa kehancuran begitu parah sehingga ia hampir tidak bisa lagi mengenali tempat-tempat yang pernah dikunjunginya.

"Dulu ada jalan yang bagus di sepanjang pantai. Sekarang hancur total. Ketika kami sampai di rumah sakit, saya bertanya kepada pengemudi yang membawa saya, kapan kami akan melewati area universitas, dan dia berkata, 'Anda sudah melewatinya.' Universitas yang dulu ada di sana sudah rata dengan tanah. Semua empat universitas hancur total."

Halaman Selanjutnya
img_title