Cerita Warga Palestina di Gaza Tolak Seruan Evakuasi Israel: Lebih Baik Mati daripada Pergi

Setahun perang Israel vs Hamas di Gaza
Sumber :
  • Antara News

Gaza – Perang Israel vs Hamas yang pecah sejak 7 Oktober 2024 lalu telah membunuh lebih dari 42.000 wargi Gaza. Demi mencegah jatuhnya korban jiwa lagi, tentara Israel baru-baru ini kabarnya memerintahkan warga Palestina di Jabalia, Beit Hanoun, dan Beit Lahia untuk meninggalkan rumah mereka di Gaza utara dan bergerak ke selatan.

img_title Daging Dam Jamaah Haji Indonesia Akan Didistribusikan ke Palestina, Arab Saudi Setuju

Namun, banyak warga Palestina mengatakan tidak akan meninggalkan rumah mereka setelah dipaksa evakuasi oleh rezim Zionis.

"Lebih baik mati daripada pergi," kata Ibrahim Awda, yang tinggal bersama keluarganya di sebuah tenda di kamp pengungsi Jabalia, kepada Anadolu seperti dikutip dari Antara News, Kamis ((10/10/2024).

img_title Prabowo di KTT ke-48: dalam Melindungi Warga Sipil, ASEAN Harus Satu Suara

"Tentara pendudukan ini berusaha memaksa kami untuk bermigrasi dan pindah ke selatan setelah satu tahun bertahan di utara dan  kehilangan rumah dan pekerjaan kami," tambah Ibrahim Awda.

Awda, yang kehilangan dua anak dan rumahnya akibat serangan Israel, mengatakan bahwa penduduk Palestina di kamp Jabalia menolak untuk mematuhi perintah evakuasi Israel.

img_title Angka Mengerikan Terkuak dari Gelombang Protes Iran: Korban Tewas Tembus 5.002, 26.752 Orang Ditangkap

"Mereka tidak akan meninggalkan rumah mereka di Gaza utara kecuali kami mati," tegas lelaki yang telah berusia 42 tahun itu.

Menurut laporan Anadolu, tentara Israel telah memperketat pengepungan di sekitar Gaza utara dari segala arah, memutus hubungan dengan Kota Gaza.

Serangan militer di Jabalia ini adalah yang ketiga oleh tentara Israel sejak pecahnya konflik Gaza tahun lalu.

Ratusan warga Palestina tewas dan ribuan terluka dalam penembakan artileri dan serangan udara Israel di kamp tersebut dalam beberapa bulan terakhir, menurut otoritas kesehatan setempat.

Awda mengatakan bahwa tentara Israel mencoba menipu warga Gaza utara dengan mengeklaim bahwa wilayah selatan "aman" bagi mereka.

"Keberlanjutan kejahatan Israel dan pembunuhan yang disengaja terhadap warga sipil yang mengungsi menunjukkan kebohongan mereka," tambah Awda.

Awda mencontohkan kematian sedikitnya 26 orang pada akhir pekan ini dalam serangan Israel terhadap sebuah sekolah dan masjid yang menjadi tempat penampungan pengungsi di kota Deir al-Balah di pusat Gaza.

"Pembantaian ini terjadi pada hari yang sama saat tentara Israel mengeluarkan perintah evakuasi bagi kami untuk menuju ke selatan," kata Awda.

Halaman Selanjutnya
img_title