Bukan Profesi Biasa: Status Guru di Mata Ulama Lebih dari Menteri!
- Info Publik
Jateng – Setiap tahun, Hari Guru Nasional menjadi momen penting untuk merenungkan kembali peran fundamental para pendidik. Dalam kacamata ulama dan ajaran Islam, kedudukan guru bukan sekadar profesi, melainkan sebuah kemuliaan spiritual yang menempatkan mereka pada posisi istimewa. Bahkan diibaratkan sebagai pewaris para nabi.
Pandangan para ulama sepakat bahwa guru adalah cahaya yang menuntun umat dari kegelapan kebodohan menuju terang ilmu dan akhlak.
Berikut pandangan ulama terkait dengan guru yang dihimpun dari berbagai sumber:
1. Pilar Klasik: Imam Al-Ghazali dan Imam An-Nawawi
Ulama klasik seperti Imam Al-Ghazali yang wafat 1111 M, dalam karya monumentalnya Ihya' Ulumuddin sangat mengagungkan peran guru, bahkan menjulukinya sebagai "Hujjatul Islam" (Pembela Islam).
Imam Al-Ghazali memandang profesi guru sebagai pekerjaan yang paling mulia karena guru mengolah manusia, makhluk termulia ciptaan Allah. Beliau mengumpamakan guru bagai matahari yang menerangi orang lain sambil membakar dirinya sendiri.
Sementara Imam An-Nawawi, ulama yang wafat pada 1277, melalui kitabnya At-Tibyān fī Ādāb Ḥamalah al-Qur’ān dan ulama lain seperti Ibnu Jama'ah dalam Tadhkirah as-Sāmi' wa al-Mutakallim, fokus menekankan pada pentingnya adab dan etika guru yang harus meliputi keikhlasan, kesabaran, dan keteladanan akhlak.
2. Adab Murid: Belajar dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Imam Az-Zarnuji
Mengenai adab murid kepada guru, para ulama sering menukil perkataan sahabat utama:
Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karomallahuwajha berkata: "Saya adalah hamba bagi orang yang telah mengajariku walaupun hanya satu huruf."
Adapun Imam Az-Zarnuji yang wafata 1223 M: Dalam kitab Ta'limul Muta'allim, beliau secara detail menjelaskan adab yang wajib dilakukan murid, termasuk memuliakan dan mencari keridhaan guru, karena keberkahan ilmu sangat bergantung pada keridhaan tersebut.
3. Pandangan Kontemporer dan Refleksi Kesejahteraan
Di Indonesia, ulama dan tokoh pendidikan sering merefleksikan ajaran klasik ini pada konteks modern:
KH. M. Hasyim Asy'ari, wafat 1947 M: Pendiri Nahdlatul Ulama ini dalam kitabnya Adab Al-Alim wa Al-Muta'allim menegaskan kembali pentingnya akhlak dan keteladanan guru sebagai penerus misi kenabian. Konsepnya menjadi rujukan utama pendidikan pesantren di Nusantara.