Rais Aam dan Ketum PBNU Harus Rela Menyerahkan Mandat
- Istimewa
Jateng – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin mengingatkan Rais Aam maupun ketua umum PBNU untuk menyerahkan mandatnya jika tidak menjalankan hasil Musyawarah Kubro di Lirboyo.
Kiai Ma’ruf menyatakan bahwa keputusan Musyawarah Kubro di Ponpes Lirboyo sudah sangat tepat.
Menurutnya, keputusan itu didasari dengan prinsip mendahulukan keselamatan jam’iyah daripada kemaslahatan pribadi maupun kelompok.
“Sesuai prinsip _khittoh nahdliyah_, yakni apa yang dilakukan muassis, ucapannya, perbuatannya, gerakannya, cara berfikirnya, dan cara menetapkan sesuatunya, yaitu musyawarah dan mufakat,” ujarnya.
Rais Aam PBNU 2015-2018 ini menegaskan bahwa bahaya perpecahan di tubuh NU harus segera dihilangkan.
“Sekarang ini NU menghadapi bahaya, yakni bahaya yang jelas, perpecahan di dalam tubuh NU. Itu harus segera dihilangkan,” sebutnya.
Tata aturan sesuai keputusan muktamar atau qararatil muktamar, jelas kiai Ma’ruf merupakan kesepakatan para muktamirin sebelum menetapkan Rais Aam dan ketua umum sebagai mandataris muktamar. Di mana, terlebih dulu menetapkan _nidhomun muktamar_.
“Karena itu Rais Aam dan ketua umum selaku mandataris tidak boleh membuat aturan-aturan yang bertentangan dengan _nidhomul jam'iyah_. Tidak boleh membuat aturan-aturan menurut kemauannya sendiri, kecuali apa yang telah ditetapkan dalam _nidhomul jam'iyah_,” jelasnya.
Jika hal itu tidak bisa dilakukan, terangnya, maka harus dengan legowo dan ridho menyerahkan mandatnya yang telah diberikan oleh mandat muktamar.
“Kalau tidak bisa, maka terpaksa harus diambil kembali mandat itu oleh wilayah dan cabang sebagai pemberi mandat. Itu putusan yang tepat dan yang saya kagum memakai waktu-waktu yang sudah ditentukan,” terangnya.
Mustasyar PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan juga mengajak semua pihak untuk menghormati Musyawarah Kubro tersebut.
“Kalau bukan kita yang menyelematkan, siapa lagi? Kita taati para ulama, kita taati AD/ART dan mari kita hormati pertemuan mustayar ini,” imbuhnya.
Kiai Said mengingatkan adanya pertemuan Ploso, di mana semua tahu seperti apa kiai nya, maupun pondok pesantren Ploso itu.
“Kemudian pertemuan Tebuireng di rumahnya Mbah Hasyim Asyari, dan sekarang pertemuan di Lirboyo. Mari kita hormati pertemuan ini,” terangnya.