Fakta: Kembang Api Terlihat Indah, Tapi Dampaknya ke Lingkungan Bikin Ngeri
- Ist
Jateng – Kembang api hampir tak pernah absen dari perayaan besar, terutama saat malam pergantian tahun. Dentumannya yang memekakkan telinga dan semburan warna-warni di langit kerap menjadi simbol kegembiraan dan harapan baru.
Namun, di balik euforia beberapa menit itu, ada konsekuensi panjang yang sering luput dari perhatian. Dampak kembang api terhadap lingkungan ternyata jauh lebih serius dibandingkan durasi pertunjukannya.
Berdasarkan laporan Meersens dan Earth.org, kembang api termasuk alat piroteknik yang bekerja melalui reaksi bahan peledak dan zat pijar. Bahan utamanya berupa mesiu atau bubuk hitam yang tersusun dari batu bara, belerang, dan kalium nitrat. Untuk memperkuat ledakan, ditambahkan zat pengoksidasi seperti kalium perklorat.
Agar cahaya terlihat lebih menarik, berbagai mineral logam dicampurkan. Warna merah berasal dari stronsium, kuning dari natrium, hijau dari barium, sementara ungu dan oranye dihasilkan dari kombinasi beberapa unsur. Selain itu, aluminium, karbon, hingga mangan kerap digunakan untuk menstabilkan ledakan dan memperkuat efek visual.
Sayangnya, campuran bahan kimia inilah yang kemudian memicu berbagai masalah lingkungan serius.
Berikut ini sejumlah fakta di balik indahnya ledakan kembang api, mengutip Antara, Senin (29/12/2025):
1. Udara Tercemar dalam Hitungan Menit
Setiap ledakan kembang api melepaskan partikel berbahaya ke udara. Partikel halus seperti PM2.5 dan PM10 menyebar dan dapat masuk ke saluran pernapasan manusia.
WHO mencatat paparan partikel ini berkaitan dengan risiko kanker paru-paru, penyakit jantung, hingga gangguan pernapasan kronis. Tak hanya itu, gas beracun seperti karbon monoksida dan nitrogen monoksida juga dilepaskan, memperburuk kualitas udara dan mengganggu jarak pandang.
Fenomena ini pernah terlihat jelas saat perayaan Diwali di India, ketika ribuan ton kembang api memicu kabut asap beracun yang menyelimuti kota-kota besar.
2. Tanah dan Air Ikut Tercemar
Residu kembang api tak menghilang begitu saja. Sisa pembakaran meninggalkan zat kimia seperti perklorat yang dapat mencemari tanah dan sumber air.
Zat ini bersifat persisten, mudah diserap tanaman, dan berbahaya bagi organisme air. Penelitian USGS dan National Park Service di kawasan Mount Rushmore, Amerika Serikat, bahkan menemukan kadar perklorat tinggi di tanah dan perairan setelah pesta kembang api.