Fakta: Kembang Api Terlihat Indah, Tapi Dampaknya ke Lingkungan Bikin Ngeri

Ilustrasi pesta kembang api di malam tahun baru
Sumber :
  • Ist

JatengKembang api hampir tak pernah absen dari perayaan besar, terutama saat malam pergantian tahun. Dentumannya yang memekakkan telinga dan semburan warna-warni di langit kerap menjadi simbol kegembiraan dan harapan baru.

img_title Fakta Vs Mitos: Ternyata Ini Alasan Masyarakat Jawa Bikin Gaduh Saat Gerhana Bulan

Namun, di balik euforia beberapa menit itu, ada konsekuensi panjang yang sering luput dari perhatian. Dampak kembang api terhadap lingkungan ternyata jauh lebih serius dibandingkan durasi pertunjukannya.

Berdasarkan laporan Meersens dan Earth.org, kembang api termasuk alat piroteknik yang bekerja melalui reaksi bahan peledak dan zat pijar. Bahan utamanya berupa mesiu atau bubuk hitam yang tersusun dari batu bara, belerang, dan kalium nitrat. Untuk memperkuat ledakan, ditambahkan zat pengoksidasi seperti kalium perklorat.

img_title Fakta Gila di Balik Gerhana Bulan Malam Ini: Nyamuk Bakal Mengamuk hingga Mood Bisa Berubah Drastis!

Agar cahaya terlihat lebih menarik, berbagai mineral logam dicampurkan. Warna merah berasal dari stronsium, kuning dari natrium, hijau dari barium, sementara ungu dan oranye dihasilkan dari kombinasi beberapa unsur. Selain itu, aluminium, karbon, hingga mangan kerap digunakan untuk menstabilkan ledakan dan memperkuat efek visual.

Sayangnya, campuran bahan kimia inilah yang kemudian memicu berbagai masalah lingkungan serius.

img_title Bukan Cuma Fenomena Langit, 4 Mitos Gerhana Bulan Ini Bikin Merinding: Ada yang Ganti Raja Palsu!

Berikut ini sejumlah fakta di balik indahnya ledakan kembang api, mengutip Antara, Senin (29/12/2025):

1. Udara Tercemar dalam Hitungan Menit

Setiap ledakan kembang api melepaskan partikel berbahaya ke udara. Partikel halus seperti PM2.5 dan PM10 menyebar dan dapat masuk ke saluran pernapasan manusia.

WHO mencatat paparan partikel ini berkaitan dengan risiko kanker paru-paru, penyakit jantung, hingga gangguan pernapasan kronis. Tak hanya itu, gas beracun seperti karbon monoksida dan nitrogen monoksida juga dilepaskan, memperburuk kualitas udara dan mengganggu jarak pandang.

Fenomena ini pernah terlihat jelas saat perayaan Diwali di India, ketika ribuan ton kembang api memicu kabut asap beracun yang menyelimuti kota-kota besar.

2. Tanah dan Air Ikut Tercemar

Residu kembang api tak menghilang begitu saja. Sisa pembakaran meninggalkan zat kimia seperti perklorat yang dapat mencemari tanah dan sumber air.

Zat ini bersifat persisten, mudah diserap tanaman, dan berbahaya bagi organisme air. Penelitian USGS dan National Park Service di kawasan Mount Rushmore, Amerika Serikat, bahkan menemukan kadar perklorat tinggi di tanah dan perairan setelah pesta kembang api.

Halaman Selanjutnya
img_title