BPPTKG: Aktivitas Merapi Tinggi namun Masih Aman bagi Warga
- PVMBG
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Agus Budi Santoso, memastikan aktivitas erupsi Gunung Merapi yang ditandai ratusan guguran dan sesekali awan panas setiap hari masih berada pada tingkat aman. Masyarakat tetap dapat beraktivitas normal karena jarak luncuran material erupsi saat ini tidak mengancam permukiman.
“Meskipun intensitas erupsi tinggi, situasinya masih aman karena luncuran hanya mencapai sekitar dua kilometer. Sementara jarak permukiman terdekat berada pada radius 6,5 kilometer. Jadi insyaallah masih aman dan terkendali. Masyarakat tetap bisa beraktivitas seperti biasa sekaligus menikmati keindahan Merapi,” ujarnya di Magelang, Jawa Tengah, dikutip dari Antara, Rabu (26/11/2025)
Pernyataan tersebut disampaikan seusai Agus mengikuti kegiatan penanaman pohon serentak di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, Desa Dukun, Kabupaten Magelang, dalam rangka Hari Menanam Pohon Indonesia 2025.
Agus menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur tidak berkaitan dengan dinamika Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.
“Ibarat keluarga, Merapi dan Semeru itu punya dapur masing-masing. Mereka berjauhan dan tidak saling memengaruhi. Insyaallah aman,” katanya.
Mengacu pada data pemantauan BPPTKG, kondisi Merapi saat ini masih dalam batas aman. Agus mengingatkan bahwa sejarah erupsi sejak 2001 menunjukkan pernah terjadi luncuran material hingga lima kilometer di sektor Kali Gendol.
“Selama ini aktivitas erupsi dominan ke barat daya, tetapi jangan lupa ada kubah lava di tengah kawah yang berpotensi mengarah ke Kali Gendol. Karena itu wilayah Glagahharjo, Keningar, Kaliurang, hingga Tuguarum tetap perlu meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.
Menurutnya, skenario terburuk yang telah disusun BPPTKG memperkirakan potensi bahaya hingga radius tujuh kilometer, sementara luncuran saat ini masih berada di sekitar dua kilometer. “Masih jauh dari batas bahaya yang kami rekomendasikan. Kami imbau masyarakat tetap hidup berdampingan dengan Merapi seperti lima tahun terakhir. Insyaallah aman,” tambahnya.
Agus juga menjelaskan bahwa musim hujan berdampak pada kestabilan kubah lava, sehingga potensi guguran material bisa meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
“Wajar bila selama November–Desember 2025 hingga puncaknya Januari–Februari 2026 intensitas guguran sedikit meningkat,” katanya.