Awal Ramadhan 2026 Berpotensi Berbeda, Kemenag Minta Umat Tak Terjebak Polemik

Kemenag
Sumber :
  • Muhammad Ali

Jateng – Kementerian Agama menegaskan bahwa potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan di Indonesia merupakan hal yang wajar dan berulang setiap tahun. Perbedaan tersebut muncul akibat beragamnya metode penentuan awal bulan hijriah yang digunakan organisasi kemasyarakatan Islam.

img_title Turun ke Jalan, Perempuan Bangsa Jateng Bagikan Ribuan Paket Takjil

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, mengatakan setiap ormas memiliki cara pandang dan pendekatan yang berbeda dalam menetapkan awal Ramadhan.

“Sebenarnya kalau berbeda itu biasa gitu, karena cara pandang kemudian cara penetapan dari ormas-ormas Islam tersebut tidak sama,” ujar Arsad di Jakarta, Selasa.

img_title Rekomendasi Tempat Bukber Tegal, Ada yang Buka Sampai Malam

Menurut Arsad, sebagian ormas menggunakan metode hisab, sebagian lain menggunakan rukyatul hilal, sementara pendekatan terbaru mengacu pada konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

“Kalau istilahnya Prof Thomas Djamaluddin itu ada hilal global dan hilal lokal. Jelas kalau hilal lokal dengan hilal global, itu sudah pasti berbeda,” katanya yang dikutip dari Antara.

img_title Deretan Takjil Khas Purwokerto yang Wajib Dicoba, Ada yang Harus Disedot

Ia menegaskan, pemerintah tidak menafikan perbedaan tersebut. Melalui mekanisme sidang isbat, Kementerian Agama menyediakan forum musyawarah untuk menampung seluruh pandangan ormas Islam sebelum mengambil keputusan resmi.

“Kita undang seluruh ormas Islam, baik Muhammadiyah, NU, Persis, dan yang lain. Kita dengarkan pandangan mereka, kemudian dimusyawarahkan dan diambil keputusan yang maslahat,” ujar Arsad.

Hasil sidang isbat, lanjutnya, menjadi dasar penetapan awal bulan suci Ramadhan oleh pemerintah. Arsad juga mengingatkan masyarakat agar menyikapi potensi perbedaan dengan sikap saling menghormati.

“Perbedaan itu wajar dan kita harus terlatih untuk menghormati perbedaan-perbedaan tersebut,” katanya.

Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak menjelang Ramadhan 1447 Hijriah terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB. Saat matahari terbenam, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar antara -2° 24’ 42’’ hingga -0° 58’ 47’’, serta elongasi 0° 56’ 23’’ hingga 1° 53’ 36’’.

Data tersebut menunjukkan hilal belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS, yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat untuk penetapan awal bulan hijriah.

Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hisab hakiki Majelis Tarjih dan Tajdid dengan berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Halaman Selanjutnya
img_title