Terus Bertambah, Korban Meninggal Bencana Sumatra per Hari Ini Capai 1.059 Orang
- BNPB
Jateng – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terkini mengenai dampak bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Berdasarkan laporan terbaru Kamis (18/12/2025), total korban jiwa yang terkonfirmasi meninggal dunia mencapai 1.059 orang. Selain korban jiwa, tercatat sebanyak 192 orang dinyatakan hilang dan masih dalam proses pencarian, sementara 7.000 orang mengalami luka-luka.
Dampak bencana ini tersebar di tiga provinsi utama, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan rincian korban yang cukup signifikan di masing-masing wilayah.
Provinsi Aceh mencatat angka korban tertinggi dengan total 451 orang meninggal dunia. Selain itu, terdapat 31 orang hilang dan 4.300 warga mengalami luka-luka. Kondisi ini menjadikan Aceh sebagai wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak dalam rangkaian bencana kali ini.
Di Sumatera Utara, jumlah korban meninggal dunia dilaporkan sebanyak 364 orang. Petugas di lapangan juga masih melakukan pencarian terhadap 79 orang yang dinyatakan hilang, sementara korban luka di wilayah ini mencapai 2.300 orang.
Sedangkan untuk wilayah Sumatera Barat, tercatat sebanyak 244 orang meninggal dunia. Meskipun angka kematian lebih rendah dibanding dua provinsi lainnya, Sumatera Barat memiliki jumlah korban hilang tertinggi, yaitu sebanyak 86 orang, dengan korban luka-luka mencapai 382 orang.
Wilayah dengan Tingkat Kematian Tertinggi
Berdasarkan sebaran data per kabupaten, terdapat tiga wilayah yang mencatat jumlah kematian paling banyak. Kabupaten Agam di Sumatera Barat menjadi wilayah dengan angka kematian tertinggi, yaitu 184 orang.
Disusul kemudian oleh Kabupaten Aceh Utara di Provinsi Aceh dengan total 166 orang meninggal dunia, dan Kabupaten Tapanuli Tengah di Sumatera Utara yang mencatat sebanyak 131 korban jiwa.
Data ini terus diperbarui oleh pihak terkait seiring dengan proses evakuasi dan validasi di lapangan. Upaya penanganan darurat dan penyaluran bantuan saat ini masih difokuskan pada wilayah-wilayah dengan dampak kerusakan dan jumlah korban paling tinggi.